Waktu = Nilai Tambah

Bookmark and Share

Filosofi waktu bagi seorang entrepreneur adalah nilai tambah, bagi seorang entrepreneur dengan waktu yang dimilikinya harus dapat memberikan manfaat bagi dirinya, keluarganya, dan lingkungan masyarakat sekitarnya. Bukankah di dalam Al-Quran dijelaskan, bahwa “Demi waktu, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh… Amal shaleh adalah sebuah nilai tambah yang kita berikan bagi diri kita, keluarga kita, bahkan lingkungan sekitar kita. Sejarah mencatat banyak sekali nilai tambah yang diberikan oleh banyak entrepreneur. Kita bisa melihat sosok Birokrat Muslim, Amirul Mukminin Umar Bin Abdul Aziz yang dalam waktu 2,5 Tahun bisa merubah kondisi masyarakatnya menjadi lebih sejahtera. Kita pun bisa melihat sosok-sosok inventor lainnya yaitu, Thomas Alfa Edison yang berhasil menemukan lampu pijar dan mendirikan berbagai perusahaan-perusahaan. Karena baginya waktu adalah nilai tambah, untuk bisa memberikan manfaat kepada sesamanya.


Jika kita menggali nilai-nilai di dalam Al-Quran seharusnya umat islam ini memiliki etos kerja yang tinggi, bersemangat, dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Agar kita selalu berpandangan demikian, maka cara pandang, cara berfikir kita tentang waktu harus kita ubah. Ya yang pertama kali mutlak kita rubah adalah mindset berikir kita. Kita harus berubah dari mindset berfikir orang-orang yang terjajah menjadi orang-orang yang kreatif, inovatif, dan selalu ingin memberikan manfaat bagi sesama. Jika kita telah merubah mindset ini, maka kita akan menjadi manusia yang kreatif, inovatif, produktif dalam hal memanaje waktu. Sudah kita sadari bersama bahwa seorang entrepreneur yang sukses selalu memiliki kreativitas, inovasi dan produktifitas dalam hal mengatur waktunya sehingga kehadiran dirinya selalu memberikan nilai tambah bagi lingungan sekitarnya.
Hal inilah yang menjadi kunci bagi seorang entrepreneur, begitu juga untuk memajukan syiar Islam, mutlak diperlukan jiwa-jiwa entrepreneur didalamnya, maka tidak heran jika para Nabi dan Rasul terlebih dahulu diberikan gemblengan dan pelatihan kepemimpinan dan entrepreneurship di usia mudanya, kita bisa melihat Nabi Muhammad yang dilatih berdagang di usia mudanya. Oleh karena itu, jiwa entrepreneurship ini sangat diperlukan bagi para santri yang suatu saat nanti akan terjun ke tengah-tengah masyarakat untuk mensyiarkan Islam.

Bandung, 14 Oktober 2008

Muhammad Abdurrahman Hanafi

Posted in Labels: |

0 comments:

Post a Comment