Pelangi Keluarga: Andai Boleh Memilih
Posted On Friday, November 28, 2008 at at 4:44 PM by Pesma FIRDAUS Malang14 Jun 07 10:04 WIB
Kirim teman
Oleh Indah Prihanande
Jam 24 malam saya baru tiba dirumah. Perjalanan dari Jakarta menuju Pandeglang hari itu terasa lebih panjang. Alasan apalagi kalau bukan karena kemacetan akut yang menyerang Jakarta hampir disemua ruas jalan.
Suami saya menunggu di depan teras rumah. Secangkir kopi susu hangat menemaninya menghalau dinginnya udara luar. Dia selalu begitu. Teras itu menjadi ruang favoritnya ketika malam tiba.
Kedua anak saya telah tertidur lelap di tempat tidur terpisah. Setelah mandi dan baca koran sebentar, akhirnya tiba untuk tenggelam dalam lelap dan nyenyak. Entah berapa lama terpejam, tiba-tiba terasa ada yang menarik tangan saya dengan sangat hati-hati. Kemudian tangan ini dielus dan diciuminya dengan lembut.
Saya berusaha memicingkan mata, oh, rupanya anak pertama saya Annisa (9 tahun) yang melakukannya. Saya tidak langsung bereaksi. Sengaja membiarkan ini berlanjut. Kemudian dia menempelkan tangan lembutnya kepipi saya. Dengan sangat perlahan dia berbisik: “Bu, ..ibu.bangun bu, pindah yuk, bobonya sama Nisa..”
Kami beranjak perlahan, khawatir membangunkan suami. Kemudian, saya dan Nisa tidur di bawah satu selimut besar. Dingin agak berkurang. Jam di Handphone menunjukkan pukul 02:00 dinihari. Tak sabar Nisa memulai pembicaraan.
“Bu, Nisa lagi buat gelang dan kalung dari manik-manik untuk dijual”.
“Jualannya ke mana?”
“Tadi sih muter kerumah temen-temen. Sebelumnya dijual disekolah”.
“Laku gak?”
“Ada yang laku ada yang nggak. Uang nya sudah dibelikan manik-manik lagi. Besok mau buat lagi. ”
“Yang bikin gelang dan kalungnya siapa? Nisa sendiri?”
“Bukan. Bertiga sama Teh Rifda dan Fajrin. Teh Rifda digaji 1. 000, kalau Fajrin 500. ”
Saya menahan senyum di tengah gelap. Terasa lucu mendengar kalimat terakhirnya. Entah bagaimana cara mereka bersepakat menentukan gaji dalam nilai rupiahnya. Malam itu, spesial dia membangunkan saya untuk membagi cerita serunya.
**
Saya tengah ingin melempar waktu ke beberapa tahun yang lalu. Pada suatu kesempatan berbincang dengannya, Saya mengajukan pertanyaan standar untuknya.
“Nisa punya cita-cita apa nak..?
“Nisa pengen jadi seperti ibu. Ibu jadi apa tuh sekarang? Akuntan ya? Nisa mau seperti itu, kerja dengan komputer..” serangkaian kalimat tadi lancar meluncur tanpa beban.
“Oh, iya. Kalau gitu Nisa harus rajin belajar supaya cita-citanya tercapai..”
“Iya Bu. Nanti kalau Nisa sudah kerja, kita kekantornya bareng ya. Nisa maunya satu kantor sama ibu. Ntar ibu yang ongkosin Nisa ya”
“Iya” ada tawa yang tertahan. Obrolan masih berlanjut..
“Ntar kita duduknya bareng ya Bu, Satu meja” Saya tersenyum dalam hati.
Dia berfikir dengan caranya sendiri.
Kemudian, dia melanjutkan lagi,
“Ntar kita makannya bareng, pulangnya juga bareng”
Saya tak tahan untuk segera menggodanya:
“Iya, ntar naik ojeknya juga bareng. Nisa tetap duduk di depan ya?”
Dia berfikir sebentar, kemudian menjawab:
“Wah, kayaknya nggak bisa deh bu, ntar kan badan nisa sudah gede, tukang ojeknya nanti terhalang oleh badan Nisa”
“Oh iya ya” saya manggut-manggut serius, mengiyakan argumennya. Kemudian, di tengah suasanan hati saya yang tak jelas antara gembira, haru, terenyuh dan lucu tersebut, saya mengajukan satu pertanyaan lagi untuknya.
“Kenapa Nisa ingin bekerja menjadi seperti ibu?”
Dengan kilat binar matanya yang bening dia menjawab lugas dan tuntas.
“Nisa ingin terus bersama ibu. Nisa ingin ke mana-mana bareng sama ibu. Pokoknya Nisa gak mau jauh dari ibu. Kalau Nisa bekerja seperti ibu, berarti kan Nisa bisa samaan terus dengan ibu…”
Tuhan.., itulah jawaban yang sebenarnya. Jawaban yang membuat jantung ini seolah dihantam godam berton-ton beratnya. Seketika hati saya berkabut. Saya sedih dan terenyuh dengan cita-citanya itu.
Tadinya saya menduga bahwa dia memimpikan profesi saya. Bahwa dia mengenal dan ingin menjadi seperti saya. Ada bangga menyelinap ketika pembicaraan itu berlangsung. Saya seolah menjadi model yang sempurna untuknya. Namun, sesungguhnya bukan itu yang menjadi alasan akan cita-citanya. Dia merindukan saya. Dia menginginkan kehadiran ibu dalam setiap saat waktu yang dilewatinya. Dia menginginkan kebersamaan itu.
Kemudian, dengan kapasitas berfikir anak usia 6 tahun, dia berusaha mencari jalan keluar atas keinginan yang belum didapatkannya. Dia tengah menyusun taktik. Dalam gambarannya, jika dia kelak menjalani profesi seperti ibu, maka dia tidak akan kehilangan kebersamaan dengan sosok yang dirindukannya itu.
Saya menangis haru atas cita-citanya itu. Jika mungkin saya boleh memilih, ingin rasanya menemaninya setiap saat, ingin menjadi orang pertama yang menyaksikan setiap perkembangannya, ingin mendampinginya dalam setiap kesempatan suka dan dukanya, ingin melewati kebersamaan lebih panjang lagi. Melewati setiap rangkaian peristiwa dengan kedekatan yang sesungguhnyapun saya merindukannya. Untuk saat itu saya membiarkan hati saya berduka. Saya mengakui akan kesedihan itu.
Bukan, bukan karena ingin meratapi nasib! Saya tidak tengah menyesali akan tugas yang tengah dijalani. Tugas yang telah menyita sebagian waktu kehidupan yang dimiliki. Saya hanya tengah ingin berdamai dengan kenyataan. Mencari cara agar hilang segala kesedihan, untuk kemudian berdamai dengan perasaan sendiri.
Walau bagaimanapun saya sangat yakin, ada potongan puzzle kehidupan yang harus diselesaikan satu persatu dengan sepenuh ikhlas.
Dan mungkin kini, sudah saatnya harus memiliki strategi untuk beranjak kepada potongan berikutnya.
Dan sekarang, saya tengah menyusun dan mewujudkan ‘ingin’ itu. Walaupun mungkin tak ideal seperti yang lainnya. Namun saya akan terus berdoa dan berusaha. Saya ingin selamat menyusun sisa rangkaian kehidupan yang saya miliki, yaitu melewati kebersamaan dengan penuh makna dan cinta dengan anak-anak tercinta itu.
Nenda_2001@yahoo. Com Untuk Annisa dan Aisya: terima kasih atas segala cintamu nak!
Kartu Langganan Kereta yang Hilang
13 Jun 07 11:07 WIB
Kirim teman
Oleh Dewi Telaphia
"Bilang saja abodemen kereta gitu, " kata sepupu saya beserta temannya. Kala itu saya masih menjadi pelajar SMP, sewaktu awal-awal UI (Universitas Indonesia) pindah ke Depok. Kebetulan sepupu saya kuliah di sana, dan dia mengajak menemaninya pergi ke kampus. Memang biasanya petugas karcis tidak akan meminta karcis jika kita mengatakan kalau kita berlangganan, apalagi kalau suasana di dalam kereta penuh sesak, semakin malaslah petugas untuk meminta karcis ke tempat-tempat yang sulit di jangkau. Maklumlah suasana KRL (Kereta Listrik) jurusan Jakarta-Bogor atau sebaliknya, dalam keadaan pulang kantor dan pulang kuliah penuh sesak, hingga sulit untuk bernafas, belum lagi ditambah dengan aroma yang kurang sedap memenuhi gerbong dan tak jarang pula ada tangan-tangan iseng yang suka berkeliaran.
Penggalan kisah itu tiba-tiba berkelebat dalam ingatan saya, sesaat setelah membaca rubrik tanya jawab di suatu situs internet.
Beberapa saat kemudian ingatan akan peristiwa yang lain pun datang dengan cepatnya. Kali ini bukan dalam suasana yang kurang tertib dan dipenuhi dengan aroma yang kurang sedap. Justru sebaliknya KRL yang ini nyaman, karena kalau lagi musim panas ada AC dan musim dingin ada pemanas, belum lagi walaupun penuh sesak tetap tertib dan seringkali tercium aroma parfum yang kadang menusuk hidung. Maklumlah KRL yang dipakai sekarang adalah KRL Den en Toshi Line.
Ya, kali ini peristiwa yang sama terjadi lagi setelah dua puluhan tahun peristiwa di KRL Jakarta -Bogor itu berlalu.
Pagi itu kebetulan ada keperluan yang membutuhkan waktu lebih pagi, dari biasanya. Karena ingin cepat, maka suami menawarkan untuk meminjamkan kartu langganan keretanya. Karena waktu sedang terburu-buru, dengan tanpa pikir panjang, segera kusambut tawarannya. Kesempatan untuk sampai lebih cepat dan agak sedikit berhemat, pikir saya.
Singkat cerita, setelah keperluan saya selesai, bergegas saya untuk pulang.
Namun sesampainya di stasiun dan hendak memasukan kartu ke kaisatsuguchi (pintu tiket), yang mana juga tempat masuk dan keluar di stasiun kereta. Ternyata kartunya tak ada, lemas juga jadinya. Akhirnya dengan perasaan tak menentu berjalan menuju mado guchi. (mesin tiket) untuk membeli tiket. Di sepanjang perjalanan pulang, sambil berpikir kira-kira tertinggal di mana kartu tersebut, hati ini tak henti-hentinya berdo'a agar kartu langganan kereta tersebut dapat kembali lagi, juga agar suami tak marah.
Sesampainya di rumah, saya sudah langsung bilang berkali-kali jangan marah pada suami. Kemudian suami bertanya, "kenapa?" Akhirnya saya jawab, " kartunya hilang." Suami kemudian hanya diam sambil berkata, "Mau gimana Lagi." Akhirnya saya berucap, " Lain kali tak akan mengguna kartu langganan kereta suami lagi."
Ternyata dengan hilangnya kartu langganan kereta itu, urusannya tidak sesederhana yang saya duga. Saya kira kalau kartu langganan kereta hilang akan dengan mudah membeli kartu yang baru dengan hanya mengatakan kalau kartunya hilang. Untuk mendapatkan kartu kembali suamiku harus lapor ke stasiun dekat rumah, setelah itu harus melapor ke stasiun yang mengeluarkan kartu langganan kereta tersebut untuk membuat berita acara. Namun jawaban yang diterima adalah tunggu saja, siapa tahu nanti ada yang menemukan.
Keesokan harinya suamiku mendapat telepon dari kepolisian untuk datang ke kantor polisi di daerah yang tidak jauh dari tempat yang kemarin aku datangi. Pihak kepolisian tersebut memberitahu untuk mengambil sesuatu dengan nomor berita acara yang telah diinformasikannya.
Cepat-cepat suamiku mendatangi kantor polisi yang diberitahu, ternyata suamiku sempat sedikit dipermainkan polisi. Kemudian polisi tersebut memberitahu suamiku setelah menelepon kantor polisi yang satunya lagi, bahwa bukan di daerah ini tempatnya, tapi di tempat yang lain.
Saya jadi berpikir, kok ya sampai sebegitu sulitnya untuk mendapatkan kartu langganan kereta, itu artinya harus orang yang bersangkutan yang memakainya, tidak boleh orang lain. Mengapa demikian? Ada bebarapa hal yang perlu diperhatikan:
1. Di kartu langganan tersebut tertulis nama dan jenis kelamin itu artinya harus orang yang bersangkutan yang memakainya. Di beberapa daerah ada sinyal yang membedakan antara kartu untuk perempuan dan laki-laki.
2. Ketika kartu hilang, tidak serta merta mudah untuk mendapatkannya kembali, seperti halnya KTP, kalau hilang urusannya rumit harus berurusan dengan pihak yang berwenang dan membuat berita acara kehilangan. Ini lagi-lagi menunjukkan bahwa harus yang bersangkutan yang menggunakan kartu langganan tersebut.
Kemudian saya berpikir berkaitan dengan pertanyaan di rubrik tersebut, yang menanyakan apa hukumnya menggunakan kartu langganan kereta orang lain, walaupun orang yang punya tersebut memberikan izin.
Ustadz tersebut menjawab, "Apakah perusahaan kereta tersebut memberikan izin kartu langganan kereta anggotanya dipakai orang lain?" Secara logika dengan adanya fakta yang saya uraikan di atas jelas-jelas perusahaan, tidak akan mengizinkan, atau kalau kurang percaya bisa ditanyakan sendiri. Jadi ini berarti hukumnya tidak boleh, sebab perusahaan kereta tersebut tidak mengizinkan.
Masih menurut jawaban ustadz, hukum Islam sangat memperhatikan hak milik, di mana seseorang dilarang mengambil hak milik orang lain tanpa seizin pemiliknya. Kemudian ustadz tersebut menjelaskan, yang dimaksud dengan pemilik di sini adalah institusi atau perusahaan atau jabatan yang memang dipercaya dan mendapatkan hak untuk mengizinkan, bukan oknum yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Mungkin yang perlu diperhatikan dan sangat mengena sekali buat saya adalah bahwa seseorang tidak akan jatuh miskin atau mati kelaparan hanya karena membayar karcis kereta.
Seharusnya semakin tinggi pemahaman Islam seseorang, berbanding lurus dengan keimanannya, juga akan membuat seseorang semakin wara'(berhati-hati) dalam segala tindak tanduknya. Bukankah Allah Maha Melihat? Allah selalu bersama kita?
Semoga hal yang semestinya kita anggap sepele ini, menjadi bahan pelajaran untuk tindakan kita ke depannya.
Catatan:
Abodemen: kartu langganan
De en Toshi Line: jalur kereta di daerah Tokyo sampai Yokohama
Perumpamaan Lalat dan Lebah
12 Jun 07 13:48 WIB
Kirim teman
Oleh Hendra Fachrurrozy
Lalat adalah hewan yang senantiasa menyukai tempat-tampat yang kotor dan berbau busuk. Di mana ada sampah atau bangkai, di sana ada lalat. Tidak hanya satu atau dua ekor lalat yang mendatangi, bahkan saking ramainya mereka untuk berebut tempat, suaranya pun terdengar kencang, seolah mereka sedang membicarakan nikmatnya mendatangi bangkai itu dan menjadikannya sebagai perbincangan menarik.
Setelah mereka puas mendatangi satu bangkai, mereka akan beralih untuk mencari bangkai yang lain dengan masih membawa bekas dan bau busuk dari bangkai pertama yang mereka datangi. Jika tidak ketemu, mereka akan menghampiri tempat-tempat yang bersih atau makanan yang terbuka namun dalam rangka untuk menyebarkan bibit penyakit kepada siapapun. Setiap orangpun akan merasa jijik terhadapnya.
Berbeda sekali dengan lebah. Lebah adalah hewan yang sangat menyukai keindahan dan kemanfaatan. Mereka selalu dan hanya akan mendatangi kembang-kembang indah yang tengah bermekaran. Mereka hinggap di sana, lalu mengambil sari pati dari setiap kembang yang mereka singgahi untuk kemudian dijadikan bahan baku pembuatan madu. Apa yang mereka ambil dari satu kembang ke kembang yang lain merupakan bahan terbaik yang akan menghasilkan madu yang bermanfaat dan bisa dijadikan sebagai obat berbagai penyakit bagi manusia.
Setiap hari, yang terlintas di benak sang lebah adalah menghasilkan madu dengan kualitas terbaik hasil olahan sendiri dengan izin Alloh SWT. Adapun sengat yang melekat di tubuh mereka bukan merupakan alat untuk menyerang musuh, melainkan sebagai alat untuk mempertahankan diri dari berbagai gangguan.
Beruntunglah menjadi bagian dari komunitas lebah, sebagai perumpamaan orang-orang yang selalu senang berada di majelis-majelis ilmu dan dzikir, yang mengambil sari patinya untuk kemudian dijadikan sebagai bahan beramal kebaikan, sebagai hujjah untuk menolak kebatilan dan keingkaran terhadap Alloh SWT dan Rosul-Nya, dan orang pundapat mengambil banyak manfaat darinya, dunia akhirat.
Dan merugilah menjadi bagian dari komunitas lalat, sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang yang lebih senang mendatangi tempat-tempat maksiat, yang tidak mendatangkan sesuatupun kecuali keburukan dan kebahagiaan semu, dan orang-orangpun pada akhirnya enggan mendekati.
Wallohu a'lam
Fakhrurrozy di Sudut Nasehat
Berkah Tersembunyi
12 Jun 07 09:11 WIB
Kirim teman
Oleh Esha Rachman Yudhi
Hari yang semula cerah, dalam waktu singkat berubah mendung. Langit biru berbaur putih berubah hitam kelabu. Dan di antara gemercik gerimis yang perlahan mulai turun, sesekali terdengar gelegar guntur. Meski tanpa kilauan kilat menyambar namun suasana terasa kian merambah ke titik ‘mencekam’.
Saat hujan menderas, cuaca yang semula panas seketika menjadi dingin. Bunyi rintiknya yang berirama tercurah ke atap rumah, mencipta rasa yang sulit diungkap dengan kata-kata. Dalam paduan cemas dan takut, terbersit teduh kepasrahan. Dalam gelisah, terlintas rasa syukur. Ah!. Hujan. Wujud peristiwa kehadiran yang kadang ditolak namun kadang pula ditunggu. Jadi bila memang sudah waktunya awan berarak diterbangkan angin, hingga terkumpul menjadi mendung menggumpal di seantero langit, siapa dapat mencegahnya mencurahkan titik-titik air hujan ke sekujur bumi?
Bila hujan tiba, lebih sering kita lantunkan sumpah-serapah. Seakan hujan sudah begitu identik dengan gambaran suasana sedih dan muram. Segala hal yang semula OK berbalik jadi KO. Jarum penunjuk antusias beralih ke titik bad mood. Rencana rapi yang sudah tersusun, jadi buyar seketika. Manajemen waktu yang telah terurutkan oleh step-step kegiatan, jadi amburadul dalam sekejap. Apa yang semula kita mau lakukan, jadi tak mampu kita wujudkan. Semua, gara-gara hujan.
Di atas segala hal yang menyangkut hujan, mungkin perlu kita bertanya: apakah selamanya sikap kita sudah benar mesti begitu?
Cobalah keluar rasakan rintik air hujan yang turun, lurus deras seakan hendak menusuk bumi. Bila hati terbuka menerima, maka kan terasa kesegaran menjalari raga.
Tengadahlah dengan wajah ceria, maka kan terhirup rasa sejuk di raut muka. Menjalar pelan ke relung sukma. Desir halus menghanyutkan dari Sang Maha Lembut.
Bukalah tangan, unjukkan ke arah langit. Berdoalah dengan lisan dan kalbu. Maka kan terasa nikmat getar ilham dalam mengingat-Nya.
Dalam buaian hujan, kita sebenarnya kan mampu pulas tertidur dalam rangkaian mimpi-mimpi indah yang berterusan. Bila kita mampu mengenali nilai ‘rahmat’ yang dibawanya serta. Bukankah udara yang semula keruh oleh tumpukan polusi, kan tercerai berai oleh kesegaran alaminya?
Tataplah dekat-dekat permukaan setiap daun di pepohonan. Tidakkah bulir-bulir yang tercipta di permukaannya yang hijau, mampu menciptakan perpaduan indah tak terlukiskan? Bukankah semua, karya agung Sang Maha Indah semata?
Di relung hujan, cobalah tulis berlarik puisi. Di permukaan tanah dan bebatuan, yang beradu dengan jernih air langit itu, cobalah ukirkan jejak. Segala arah mata angin kan berselimut kesejukan dari Sang Maha Kasih.
Berhadapan dengan berkah tiada kira ini, layakkah kiranya sumpah-serapah? Bila hujan tiba, inilah saat pintu langit terbuka. Segala lantun doa kan dengan mudah terkabulkan oleh-Nya. Haruskah saat baik ini berlalu di antara keluhan sia-sia?
Bila panas berlangsung tanpa henti. Bumi berputar, waktu berganti. Tanpa hujan sesekali, mampukah kita tegak berdiri?
Tuhan, terima kasih atas segala berkah tersembunyi yang demikian banyaknya telah Engkau kirimkan bagi kami di bumi. Maafkanlah bila kami tak pernah tahu pasti, untuk apa semua itu mesti ada dan senantiasa tak pernah henti hadir di tengah kami…
Segala macam berkah tersembunyi, seringkali terhijab dari kami. Karena memang hanya Engkau-lah Sang Maha Tahu Segalanya.
Bila Maaf Itu Belum Tiba
7 Jun 07 13:38 WIB
Kirim teman
Oleh Muhammar Khamdevi
Telepon berdering tak hentinya. Adam yang tak jauh dari situ, tak bergeming sedikitpun. Dari arah dapur terlihat seorang ibu bergegas ke ruang tengah untuk mengangkat telepon.
''Adam...! Kok gak diangkat sih Nak? Ibu kan lagi di dapur... Kamu lagi capek banget dari pulang sekolah yah? '' tanya Ibunya Adam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
''... ''
''Hallo!.... Wa'alaikumsalaam.... Iyah... Adam ada di sini kok To... Sebentar yah!.... Dam, nih si Yanto mau ngomong... ''
''Ibu... Mohon bilangin ajah kalau aku lagi nggak mau diganggu... ''
''Loh kok?''
''Plisss...!!!''
''Iyah deh... Kayaknya kamu lagi capek... Hallo nak Yanto... Maaf nih Adamnya lagi istirahat... Bisa telpon lagi nanti yah? Baik... Wa'alaikumsalaam...!''
Ibunya pun menghampiri Adam, sambil meletakkan telapak tangannya di kening dan leher Adam.
''Gak... Kamu gak panas kok... Kamu kenapa sih Dam?''
''Hmmm... Aku lagi males ngomong sama Yanto Bu. ''
''Kenapa?''
''Duh... Males nih ceritainnya...! Pokoknya dia punya salah ama aku...
Trus dia nggak minta maaf lagi... ''
''Kamu dah bicara sama dia?''
''Justru kayaknya dia nggak ngeh, kalo dia dah buat salah sama aku... ''
''Lah... Trus gimana dia bisa tahunya dong?''
''Dia cari tahu aja sendiri!''
''Jadi biar dia tersiksa, karena kamu diemin, gituh? Biar terbalas dengan setimpal kesalahan dia ke kamu?''
''Iyah... ''
''Ih Kamu nih! Jangan kayak gitu dong Dam! Jangan ngarepin dia tahu sendiri kesalahannya ke kamu! Dan jangan ngarepin dia minta maaf sama kamu! Sebaiknya kamu memberi maaf dia, sebelum dia minta maaf... Mungkin saja cuman salah paham kecil... ''
''Abis... Aku marah sekali Bu... Biar tau rasa dia!''
''Ih...! Jangan nyumpah-nyumpahin kayak gitu dong...! Marah itu jangan kamu bawa-bawa untuk tidak memaafkan dia... Malah kamu jadi berat hati dan tersiksa sendiri... Apalagi sampai merasa dendam dan ingin membalasnya... Bisa-bisa, kalo Yanto pun jadi minta maaf, malahan kamu nggak mau maafin dia sama sekali... ''
''Gengsi...! Ibu gak tau sih masalahnya apa... ''
''Kamu memberi balasan memang boleh... Tapi lebih utama memberi maaf... Apalagi memberi maaf, sebelum dia meminta maaf... Karena memberi maaf itu lebih utama, daripada mengharapkan minta maaf... Di Al-Qur'an saja yang tertera adalah kewajiban memberi maaf... Meminta maaf malah tidak ada... Yang ada meminta ampun sama Allah... ''
''Kok?''
''Coba deh Kamu rasa... Mana yang lebih berat? Meminta maaf atau memberi maaf?''
''Memberi maaf kayaknya... Tapi kenapa berat yah Bu?''
''Karena kalau kamu merasa teraniaya oleh kesalahan orang lain... Rasa amarah dan benci lebih mendominasi kamu... Makanya kenapa berat... Dan lagipula kalau kamu belum memberi maaf, kamu seakan menguasai dan memegang nasib kehidupan dia... Padahal kamu bukan Tuhan yang berhak memberi ampunan atau tidak... Yang ada jadinya berharap orang tersebut mendapatkan keburukan dan kesialan... Atau jika dia minta maaf, malah kita nggak mau memberi maaf... Dan itu adalah perbuatan yang tidak terpuji... Malah kita menjadi berdosa... ''
''Iyah aku paham... Tapi setidaknya khan dia juga punya kemauan minta maaf bukan?''
''Kendalanya mungkin si yang bersalah bisa jadi nggak tau, kalau dia telah berbuat salah atau menyinggung Kamu... Atau bisa jadi karena ada hambatan sosial, di mana dia juga sebenarnya malu meminta maaf karena gengsi atau karena mungkin merasa bisa langsung dimaklumi... Misalkan abangmu minta maaf sama Kamu, karena dia merasa lebih tua dari Kamu... Mana lebih gengsi? Meminta maaf atau memberi maaf?''
''Meminta maaf sih pastinya... ''
''Sudahlah, maafkan saja! Kalo kamu nggak usah cerita ke dia juga nggak apa-apa... Karena jika kamu bersabar dan memberi maaf sebelumnya, kamu justru mendapat penghapusan dosa dan penambahan pahala, karena kamu telah dianiaya... Tapi kalo kamu cerita ke dia juga boleh banget... Mungkin dia bisa tahu apa yang membuat kamu tersinggung dan dia ingin merubahnya, malah bermanfaat juga buat dia... Yang pasti dengan cara yang baik-baik memberi maafnya... ''
''Iya deh... Maaf ya Bu, kalo aku tadi gak ngangkat telponnya... ''
''Iya kok Nak... Ibu maklumin... Dah dimaafin kok... Makan siangnya bentar lagi selesai... Ibu masakin makanan kegemaran Kamu tuh... ''
''Teri Medan yah? Asyikkk!!!''
''Apabila kamu memaafkan, dan melapangkan dada serta melindungi, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang. '' (Q. S. Al-Thaghabun 64: 14)
Keranjang Buah Si Entong
14 Jun 07 14:33 WIB
Kirim teman
Oleh Bayu Gawtama
Belum satu pekan saya tinggal di Sawangan, Depok. Namun sudah mendapatkan banyak pelajaran berharga nan penuh hikmah. Salah satu pelajaran saya dapatkan dari Si Entong -semua warga perumahan tempat kami tinggal memanggilnya demikian- penjual buah dan sayuran yang kerap mampir menawarkan dagangannya.
Usianya baru dua belas tahun, namun perawakannya lumayan tinggi untuk anak seusianya. Setiap pagi ia memikul dua keranjang yang berisi buah-buahan seperti pisang, pepaya dan juga singkong. Beberapa jenis sayuran seperti daun singkong, kangkung dan bayam pun sering dibawanya serta. Suara cemprengnya mudah dikenali dan sangat khas saat berteriak memanggil pembeli.
Beberapa hari lalu, Entong mampir ke halaman rumah kami dan menawarkan dagangannya. "Pepaya pak, bu... Manis nih, matang di pohon. Pisangnya juga bagus-bagus... " Beruntung ia, kami memang sedang kehabisan buah di rumah. Maka kami pun membelinya. Cukup kaget saat tahu harga yang disebutkannya untuk sebuah pepaya seberat kurang lebih satu kilo, "dua ribu rupiah... " katanya.
Begitu pun dengan sesisir pisang mas yang hanya seharga seribu lima ratus. Selain kami jarang sekali menawar barang dagangan kepada pedagang kecil, tentu saja takkan mungkin kami menawarnya lagi mengingat harga yang sangat murah itu.
Terlebih setelah tahu berapa jarak yang harus ditempuhnya untuk berjualan dari rumahnya sampai ke komplek perumahan kami, yakni dua setengah jam berjalan kaki. Bisa dibayangkan, memikul beban berat dan menempuh jarak yang sangat jauh dengan berjalan kaki. Kaki kecil tak beralas kaki itu harus menapaki jalan beraspal dan berbatu, belum lagi tubuh kurusnya yang tak henti dihantam terik matahari.
Tidak ada satu alasan pun bagi saya untuk menawar barang dagangannya. Belum lagi setelah kami mendengar ceritanya, bahwa ia tak pernah diizinkan kembali ke rumah sebelum semua dagangannya habis. "Bisa diomelin sama bapak kalau masih tersisa. Mendingan saya nggak pulang sampai malam daripada diomelin... " terangnya.
Ketika kami bertanya tentang sekolahnya, ia tertunduk malu dan, "Sudah dua tahun saya nggak sekolah, dagang aja. Lagian bapak nggak punya uang untuk biaya sekolah, " tambahnya.
Isteri saya yang sejak tadi terdiam pun ambil suara, "kalau ada yang mau biayain sekolah, Entong mau sekolah lagi?"
"Saya sih mau banget bu, tapi pasti nggak boleh sama bapak. Nanti siapa yang jualan buah dan sayuran ini... " wajahnya tampak sedih. Dan tergesa ia menata kembali buah-buah di keranjangnya seraya mengalihkan pembicaraan, "ini pepayanya jadi nggak...?"
Kami pun membeli beberapa dagangannya, setidaknya meringankan beban di pundaknya serta menghapus keraguannya untuk kembali ke rumah tanpa khawatir terkena marah bapaknya. Entong berjalan ceria sambil tangannya sibuk menghitung laba yang tak seberapa.
Sungguh, sebuah pelajaran baru tentang kegigihan dan perjuangan hidup digambarkan dengan apik oleh lelaki kecil itu. Sangat mencabik-cabik perasaan saya akan hakikat perjalanan kehidupan, bahwa ada sebagian di antara kita yang mempertaruhkan segalanya untuk hidup, sementara sebagian lainnya tak butuh apapun untuk hidup karena sudah tersedia dan berlimpah.
Terima kasih, Entong... (gaw)
Kunci Kebahagiaan
8 Jun 07 11:22 WIB
Kirim teman
Oleh Jebel Firdaus
Tiap kita punya pendapat sendiri tentang kebahagiaan. Walau pun semua berhasrat ingin bahagia, namun tak sedikit kita jumpai orang yang tidak bahagia. Padahal tiada kurang harta yang dimilikinya, tiada kurang penghormatan untuknya, dan tiada kurang jabatannya. Kecantikan bukan ukuran kebahagiaan. Hal itu ibarat bunga yang suatu saat layu. Bukan pula harta kekayaan. Ia ibarat hujan yang akan kering setelah datang sinar matahari. Bukan juga kekuatan. Ia ibarat pertandingan, ada saatnya menang, tapi ada juga saatnya kalah. Singkat kata dunia tak dapat membahagiakan kita.
Syahdan sebelum menciptakan manusia, Allah tugaskan dua malaikat untuk menempatkan sesuatu yang amat berharga yang kelak akan dicari seluruh manusia. Malaikat satu berkata, aku kan letakkan di dasar samudra, hingga hanya orang yang tangguhlah yang menemukannya. Malaikat satu lagi berkata, aku kan menyimpannya di puncak gunung hingga tak ada yang menemukan kecuali orang yang kuat tekadnya. Perselisihan itu pun tak berujung. Akhirnya Allah yang memutuskan, Aku kan taruh sesuatu itu di lubuk hati manusia yang paling dalam. Sesuatu apakah gerangan hingga Allah turun tangan. Tak lain itu adalah kebahagiaan.
Kebahagiaan tertanam dalam diri kita sendiri. Kita hanya perlu menemukannya. Ia sering kali tertimbun endapan rasa takut, dengki dan kecewa akibat hal-hal di luar diri kita. Karena itu harus kita singkirkan. Kita takut kehilangan sesuatu, padahal mau tidak mau, semua yang datang pasti kan pergi. Kita dengki melihat kenikmatan orang, padahal tidak kurang anugerah Allah pada kita. Kadang kita kecewa dengan kejadian diluar, padahal selalu ada hikmah yang indah di balik semua kejadian yang telah berlalu.
Kebahagiaan adalah ketulusan. Hanya dengan ketulusan kita bisa menemukan kebahagiaan. Tulus menerima segala apa yang Allah anugerahkan seraya mensyukurinya. Allah lebih mengetahui dari pada kita tentang apa yang kita butuhkan. Jangan lepaskan burung di tangan hanya karena mengharap burung yang terbang. Yakinlah apa Allah yang takdirkan untuk kita, itu baik buat kita.
Maka jangan remehkan apa-apa yang telah kita miliki.
Ketulusan akan menyingkirkan debu kedengkian, kekecewaan sekaligus kecemasan. Sebaliknya ketulusan membawa kita pada sikap ridha. Maka Allah pun akan meridhai kita. Rasul bersabda, “Sesungguhnya besarnya pahala bergantung besarnya ujian. Apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Allah menguji mereka. Maka siapa yang ridha, maka Allah akan meridhainya, dan siapa yang murka, maka Allah akan memurkainya” (HR Tirmidzi).
Kebahagiaan ibarat air dalam botol. Botol dan air memang saling memerlukan. Namun hanya air yang dapat melepaskan dahaga. Maka siapa yang memiliki akal sehat akan memilih air, sedang orang yang sesat akan memilih botol, tanpa melihat apakah terdapat air didalamnya atau tidak. Itulah sebabnya, dahaganya tidak pernah terpuaskan, sebab ia tidak tahu apakah botol itu kosong atau berisi.
Kutemukan Belahan Jiwaku
11 Jun 07 14:45 WIB
Kirim teman
Oleh Elik Susanti
Jodoh, rejeki dan kematian adalah rahasia mutlak milik Allah SWT, Sang Maha Agung dan Bijaksana, tidak ada satu makhluk pun yang dapat mengetahuinya kecuali Sang Pemilik diri kita. Hal tersebut telah terpatri erat dalam pikiranku sejak dulu. Ini yang mendorongku untuk terus berikhtiar, istiqomah dan selalu ber-khusnudzan kepada Allah Azza wa Jalla tentang kapan saatnya tiba menemukan belahan jiwaku.
Dalam proses pencarian diusiaku yang keduapuluhenam, beberapa teman dekat mulai dijajaki, ta'aruf pun dilakukan. Dalam proses ta'aruf, salah seorang sempat melontarkan ide tentang pernikahan dan rencana khitbah. Namun herannya, hati ini kok emoh dan tetap tidak tergerak untuk memberikan jawaban pasti. Hey, what's going on with me? Bukankah aku sedang dikejar usia yang terus merambat menua? Bukankah aku sedang dalam proses pencarian belahan jiwa? Apalagi sebagai anak terakhir dari lima bersaudara, yang semuanya sudah berumahtangga, tentunya semua keluargaku sudah sangat mendambakan aku segera menyempurnakan separuh dienku, apalagi ibuku.
Sungguh teramat berat menjalani hidup dengan status lajang. Belum lagi lingkungan kerja dan di desa tempat keluargaku tinggal saat ini di mana kabar – seringnya gosip atau gunjingan – cepat menyebar, benar-benar merupakan cobaan besar yang harus dihadapi. Tetapi, semuanya aku jalani dengan penuh keikhlasan. “Ya, mungkin saya masih harus bekerja lebih banyak waktu buat masyarakat”, hanya itu yang bisa aku katakan setiap ada yang menanyakan kenapa belum menikah. “Ya, mungkin Allah masih belum mempercayakan seorang suami kepada saya dan saya masih harus belajar mengurangi ego sebelum saya menjadi seorang isteri”, kataku di lain waktu. “Ya, mungkin Allah memberi waktu saya lebih banyak mencurahkan waktu buat orang tua”, balasku ringan.
Mereka mengatakan bahwa aku adalah type 'pemilih' yang lebih suka jodoh yang tampan, kaya raya dan baik hati, dan lainnya yang serba super dan wah. Tapi, aku gelengkan kepalaku ke arah mereka karena kriteria seorang calon suami bagiku adalah si dia seorang muslim sejati yang mempunyai visi yang sama untuk membangun sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah, bahagia dunia akhirat, satu untuk selamanya, yang mempunyai tujuan menikah tidak hanya untuk meneruskan keturunan saja, tapi untuk beribadah dan menambah keimanan kita dan bukan sebaliknya, dan itu akan terwujud jika Allah mengkaruniakan pasangan yang tepat untuk kita.
Dan aku percaya bahwa tidak akan ada yang tertukar dari pemberian Allah, Allah akan memberikan yang terbaik dan indah pada waktunya. Tapi lucunya, kalau diminta untuk mengejewantahkan ke dalam diri seseorang, jujur saja aku tidak tahu.
Again, jodoh memang benar - benar sebuah rahasia yang mutlak milik Allah SWT. Proses pertemuanku dengan sang suami pun bak cerita dongeng. Jangankan sahabat atau rekan kantor, pun jika kami kembali me-rewind proses pertemuan kami, wuih... Unbelievable! But it happened!
Subhanallah...
Suamiku adalah sosok yang biasa dan sederhana, namun justru kesederhanaan dan keterbiasaannya itulah yang memikat hati ini. Dan, alhamdulillah hampir mendekati kriteria seorang suami yang aku dambakan. Di beberapa malam kebersamaan kami, suami sering menanyakan kepadaku tentang satu hal, "Apakah kamu bahagia menikah dengan aku?"
Aku pun menjawab dengan jeda waktu sedikit lama, "Ya, aku bahagia. " Masya Allah, seandainya suamiku tahu, besarnya rasa bahagia yang ada di dada ini lebih dari yang dia tahu. Besarnya rasa syukur ini memiliki dia cukup menggetarkan segenap hati sampai aku perlu jeda waktu untuk menjawab pertanyaannya. Hanya, aku masih belum mampu mengungkapkan secara verbal. Allah yang Maha Mengetahui segala getaran cinta yang ada di hati bunda, Allah yang Maha Mengetahui segala rasa sayang yang ada di jiwa bunda. Karena, atas nama Allah bunda mencintai ayah.
Pertama kali aku kenal dengan suamiku adalah waktu itu siang hari saat bulan suci ramadhan hampir berakhir, aku sedang mengikuti ceramah Aa’ Gym kesukaanku di TV, tiba – tiba aku dikagetkan oleh dering suara telepon ”Assalamualaikum, bisa bicara dengan elik?” kata si empunya suara dari seberang sana. ”Waalaikumsalam, Iya, saya sendiri” jawabku. Taufan adalah pemilik suara di telepon itu, dia tahu identitasku dari sebuah cyber Islami yang mana aku adalah salah satu anggotanya. Akhirnya kami terlibat dalam sebuah pembicaraan.
Sebelumnya kami berdua belum mengenal satu sama lain. Hanya kesabaran, perhatian dan pengertiannya sempat mampir di dalam pikiranku. Setelah itu kami kerap berhubungan lewat telepon sekedar untuk mengobrol dan saling mengenal satu sama lain. Perkenalan kami diawali saat itu, sebelum akhirnya kami memutuskan untuk ta’aruf. Di sinilah aku merasakan kuasa Allah yang sangat besar, ternyata kami banyak menemukan kecocokan dan sepertinya dia seseorang yang bisa diajak menggapai surga dunia dan akhirat.
Namun beberapa hari kemudian, entah kenapa wajahnya yang kulihat lewat foto yang dia kirim ke emailku mulai hadir di pikiranku kembali. Ternyata hal yang sama pun terjadi di pihak sana. Kami pun sepakat untuk melakukan istikharah. Subhanallaah, tidak ada kebimbangan sama sekali dalam hati kami berdua untuk menyegerakan hubungan ini ke dalam pernikahan. Namun saat ini aku harus bersabar menunggu sampai dia pulang dari negeri sakura, karena saat itu dia sedang ada di negeri itu untuk bekerja, kembali kesabaranku diuji.
Penantianku selama 7 bulan ternyata membuahkan hasil, setelah Taufan kembali dari negeri sakura, dia dan keluarganya mengkhitbahku. Mungkin ini buah kesabaran yang Allah berikan kepada kami. Kami rasakan 'tangan' Allah benar-benar turun menolong memudahkan segala urusan. Sujud syukur kami berdua, karena semua acara berjalan begitu lancar, dari mulai dukungan seluruh keluarga, urusan penghulu dan pengurusan surat-surat ke KUA.
Maha Suci Allah, hal tersebut semakin menguatkan hati kami, bahwa pernikahan ini adalah rencana terbaik dari Allah SWT dan Dia-lah Pemersatu bagi perjanjian suci kami ini. Dalam isak tangis kebahagiaan kami atas segala kemudahan yang diberikan-Nya, tak pernah putus kami bersyukur akan nikmat-Nya. Insya Allah, pernikahan kami merupakan hijrahnya kami menuju kehidupan yang lebih baik dengan mengharap ridha Allah, karena perkenalan itu berawal saat bulan suci ramadhan, saat Allah membukakan pintu maaf dan mengabulkan semua doa umatNya yang memohon kepadaNya.
Akhirnya setelah sekian lama aku mengembara mencari pasangan hidup ternyata jodohku adalah orang tak pernah kuduga selama ini. Inilah rahasia Allah SWT yang tidak pernah dapat kita ketahui kecuali dengan ber-khusnudzan kepadaNya. Percayalah, bahwa Allah SWT adalah sebaik-sebaik Pembuat keputusan. Serahkanlah segala urusan hanya kepada Allah semata, percayalah selalu akan janji Allah di dalam firman-Nya, "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. " (QS. Ar-Ruum: 21).
Jangankan manusia, hewan dan buah-buahan pun diciptakan Allah berpasangan. Ber-khusnudzan selalu kepada-Nya bahwa, entah esok, lusa, satu bulan, satu tahun atau bahkan mungkin sepuluh tahun nanti, dengan izin Allah, jodoh kita pasti akan datang. Pasangan jiwa yang terbaik yang dijanjikan dan dipersatukan-Nya dalam perjanjian suci yang disebut pernikahan.
Di saat umurku yang makin bertambah dan saat peluang menikah semakin memudar seperti anggapan sebagian orang, di tengah tatapan sinis sekelilingku, aku mampu memupuk keyakinan bahwa suatu saat, cepat atau lambat, Allah akan memberikan apa yang kuminta. Bahwa suatu ketika balasan itu pasti datang. Hari ini aku melihat bukti nyata hasil kesabaranku. Rangkaian panjang do’a-do’aku yang tak pernah putus terkabul sudah.
Sikap bersahabatku kepada setiap orang yang selalu mempermasalahkan statusku sungguh telah berbalas dengan sebaik-baik balasan, mempertemukanku dengan seseorang yang teguh dalam menjalankan perintah Allah dan Rasul-nya, yang meskipun lebih muda dariku, tapi lebih memandang jiwa daripada rupa. Hari ini aku menyakini bahwa bersabar memang pekerjaan yang sulit, tetapi bukan hal yang tidak mungkin dilakukan dan sungguh kita pasti akan memetik buah kesabaran kita, sebagaimana dikatakan, “Sungguh akan dipenuhi bagi orang-orang yang sabar pahala tanpa hitungan” (QS Az Zumar 10).
Bersabar bukan hanya sekedar kerelaan menunggu atas tertundanya suatu keinginan, bukan hanya sekedar kemampuan menerima setiap masalah dengan lapang dada. Lebih dari itu, bagi seorang muslim bersabar adalah manifestasi kepercayaan akan keberadaan Rabb-nya, bentuk nyata prasangka baiknya kepada Sang Khalik yang Maha Mengetahui, Maha Mengasihi dan Maha Penolong. Bersabar juga adalah wujud keyakinan yang muncul dari lubuk hati akan segala nikmat dan karunia yang diberikan Allah dan bentuk kemampuan untuk mempergunakannya dengan optimal.
Seorang muslim yang bersabar akan selalu memandang jauh ke depan dengan penuh optimisme. Bersabar berarti mampu memandang dengan sisi yang berbeda setiap kendala. Ketika merasakan betapa sulitnya menggapai suatu usaha, aku yakin bahwa setiap tetesan peluh kita menyimpan makna. Ketika merasakan sesaknya himpitan masalah, kita akan melihat pelajaran berharga yang bisa kita petik dari kesulitan-kesulitan yang menerpa kita dan menjadikannya sebagai tonggak meraih harapan-harapan dalam hidup kita. Jika kita merasa belum mendapatkan keinginan kita, maka kita akan semakin rajin menempa diri, memperbaiki diri, mengkoreksi diri mencari sebab mengapa do’a do’a kita belum juga dikabulkan.
Semoga tulisan ini dapat mewakili perasaan dan harapan ade, yang mungkin sulit untuk ade ungkapkan dalam kata – kata. Semoga doa kita dikabulkan-Nya. Amin. I hope this is our Endless Love
Sesungguhnya tak pernah sang kekasih mencari tanpa dicari oleh kekasihnya Apabila kilat cinta t'lah menyambar hati ini Ketahuilah bahwa ada cinta dalam hati yang lain.
Apabila cinta Allah bertambah besar di dalam hatimu pastilah Allah menaruh cinta atasmu. Tak ada bunyi tepuk tangan hanya dengan satu tangan.
Kebijaksanaan Ilahi adalah takdir dan ketetapan yang membuat kita cinta satu dengan yang lain Sampai akhir hingga dunia akan terpelihara oleh kesatuan kita
God know what we need not what we want
Pesan dari Kuburan...
13 Jun 07 19:28 WIB
Kirim teman
Oleh Parlan
Di dunia ini, tempat yang paling kaya adalah kuburan. Dari sana sejenak orang akan merasakan ketukan hati yang berpesan ’suatu saat aku juga akan mengalami seperti mereka..’. Bagi mereka yang mau berubah, maka ia akan mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah dunia. Kalau anda sekarang sudah memiliki ’teman hidup’, apakah anda sudah memiliki ’teman mati’?
Ada tiga ’teman mati’ (baca: perkara/amalan) yang setia dan tidak akan terputus pahalanya walau kita sudah meninggal; ilmu yang bermanfaat, amal jariyah di jalan ALLAH, doa anak yang sholeh. Yang pertama dan yang kedua adalah mutlak dilakukan oleh subjek semasa hidupnya. Sedangkan yang ketiga adalah ’orang lain’ yang terus berkarya, yang merekam didikan kasih sayang di masa kecilnya, yang juga rentan dan terombang-ambing oleh badai perubahan. Paling tidak bagi yang belum menikah, perkara yang ketiga tersebut belumlah berlaku. Jadi wujud usaha yang bisa dilakukan adalah poin pertama dan kedua.
Salah satu cara yang dianjurkan untuk memotret masa depan kita sebelum mati; Jika suatu hari Anda datang pada upacara pemakaman, dan Anda menyaksikan tubuh yang dimakamkan itu adalah diri Anda. Ada ayah, ibu dan keluarga anda, tetangga dekat, dan tak lupa teman-teman. Anda menyaksikan salah seorang keluarga Anda membuka pidato kematian, semua orang termasuk Anda hanya berhak mendengarkan.
Nah, kira-kira untain kalimat seperti apa yang ingin Anda dengar? Komentar apa yang ingin Anda dengar dari tetangga sebelah tentang Anda setelah mereka pulang dari makam? Setelah satu minggu berlangsung, apa yang dibicarakan orang lain tentang Anda? Setelah sebulan, setahun dan seterusnya, apa yang dikenang oleh banyak orang tentang Anda?
Hakikat pertanyaan tesebut bukanlah pujian ataupun gosip tentang Anda, melainkan kenyataan, fakta, dan prestasi yang telah Anda ukir hingga saat ini.
Sungguh kuburan adalah tempat yang kaya untuk memotret masa depan kita, merencanakan dan merealisasikannya tahap demi tahap. Kematian memang akan senantiasa dirahasiakan, dan di situlah letak pentingnya. Tak tahu bagaimana dan kapan. Hingga seharusnya membuat kita selalu khawatir jika saat ajal menjemput, sementara kondisi iman kita dalam kondisi terpuruk.
Kematian yang akan tetap menjadi misteri. Tak satupun yang berani menjamin, bahwa seorang aktivis dakwah akan mendapatkan anugerah meninggal dalam keadaan yang baik (khusnul khotimah). Untuk itulah tiap hari kita tak berhenti berharap, tunjukilah kami jalan lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat; bukan jalan mereka yang sesat. Sembari berusaha menghindar dari segala dosa masa lalu, bertaubat sungguh-sungguh, dan terus mengusahakan kebaikan yang kita mampu.
Saudaraku, mari mulai sekarang kita tuliskan ’pidato kematian’ yang kelak akan dibacakan saat kita meninggal dunia, mari perlahan perbaiki diri, susun prestasi-prestasi amal yang kita mampu, mari perbaiki kualitas diri dan seru sesama kita untuk mendekatkan diri kepada Islam dan kepada ALLAH SWT.
Yang menunggu antrian,
f_495: 06/01/2007
Pawon: Sejak pagi tadi aku gali kuburan orang yang mencurahkan kasih sayangnya kepadaku. Tidak tahu pasti kapan sakitnya, sejak 2 tahun lalu aku baru mengetahui kalau wanita yang mulia ini harus cuci darah tiap hari Kamis setiap pekannya. Insya’ALLAH sholatnya tidak terputus walau sebagian besar hari senjanya ia lalui di tempat duduk dan di tempat tidur. Beliau masih sempat memasakkanku ’dendeng’ tiap 2 pekan yang jadi rebutan anak-anak dikosan. Selepas maghrib biasanya terdengar lantunan ayat-ayat ALLAH dari mulut lemah wanita mulia itu. Di usia senjanya beliau harus ’berjihad’ melawan rasa sakit yang telah merusak ginjalnya. Hari ini kupeluk erat tubuhnya yang kaku terbungkus kaffan, kumasukkan ke dalam liang lahat yang terlambat dipersiapkan. Hari ini Bunda Yusniati menghadap ALLAH Sang Pemilik seluruh ciptaan.
(Lagi) Tentang Ketulusan dan Keikhlasan
21 Jun 07 15:41 WIB
Kirim teman
Oleh Ummufajar
Tidak jauh dari rumah kami ada sepetak tanah milik pengembang yang belum dimanfaatkan. Kami sendiri tidak tahu untuk apa nantinya sepetak tanah itu. Berdasarkan hasil musyawarah warga satu RT, kami sepakat untuk mendirikan ruang serba guna di atasnya. Selain nantinya dapat digunakan untuk tempat pertemuan warga juga bisa untuk tempat anak-anak kami mengaji di sore hari, karena selama ini mereka berpindah-pindah tempat untuk mengaji. Kebetulan juga ada seorang tetangga yang arsitek bersedia merancangnya. Alhamdulillah dengan cara swadaya berdirilah bangunan sederhana itu.
Sore ini sepulang kerja, seperti biasa terdengar suara anak-anak yang sedang belajar membaca Al-Qur'an. Usia mereka beragam dari 3 tahun sampai 11 tahun. Ada yang baru belajar mengenal huruf hijaiyah, tapi ada juga yang sudah lancar membaca Qur'an. Fajar, anak pertamaku memang baru beberapa hari ini bergabung dengan mereka, itupun atas kemauannya sendiri. Kebetulan sedang ada kakek dan neneknya di rumah. Sepertinya belajar bareng-bareng temannya lebih mengasyikkan.
Sudah beberapa hari ini aku perhatikan guru ngaji anakku itu. Namanya Yuyun, usianya menurut perkiraanku baru belasan tahun. Pembawaannya sangat sederhana, selalu ramah kepada setiap orang yang dijumpainya. Tempat tinggalnya bukan di dalam kompleks perumahan kami, tapi di perkampungan yang berbatasan dengan perumahan. Melihat usia dan banyaknya anak-anak yang harus diajarinya, ada perasaan kagum dengan kesabarannya menyampaikan ilmu yang dia miliki. Kebayang kan anak seusia 3 tahun, bagaimana tingkah mereka. Belum lagi yang usianya lebih besar dengan keisengan mereka.
Yang lebih mengagumkan lagi, bu Yuyun nggak pernah mau dibayar untuk jerih payahnya itu. Dia selalu bilang, 'Saya hanya ingin adik-adik ini belajar Qur'an, Bu'. Subhanallah, rupanya Allah hari ini telah mengingatkan aku melalui bu Yuyun, guru ngaji anakku akan ketulusan dan keikhlasan. Tentu saja bu Yuyun lebih memilih keuntungan yang akan didapat dalam 'perniagaannya' dengan Allah dibandingkan dengan keuntungan materi semata. Di saat ABG lain hidup dalam sendau-gurau dan permainan yang tak berguna, dia memilih mengajar mengaji anak-anak penerus generasi. Dalam hati aku hanya bisa berdoa, mudah-mudahan Allah selalu memudahkan setiap langkahnya.
Belajar Mengalahkan Ego Diri
20 Jun 07 10:42 WIB
Kirim teman
Oleh Hafizh Kharisma
Gara-gara tidak mengikuti kemauannya untuk masuk ke arena bermain pada mall yang kami kunjungi, si kecil ngambek (marah) tidak mau makan ikut siang. Bukan cuma itu, saat kami sekeluarga duduk mengelilingi sebuah meja makan di restaurant cepat saji, dia malah memisahkan diri duduk di meja lain dengan tangan dilipat di atas meja dan bibir mungilnya maju beberapa centimeter ke depan.
Saya mencoba membujuknya dengan melambaikan tangan memanggilnya untuk duduk dikursi sebelah saya yang sengaja dikosongkan tapi dia hanya menggelengkan kepala dengan mata dan raut wajah yang masih terlihat marah. Saya kemudian pura-pura marah juga dengan mengangkat bahu dan berusaha tidak lagi memperhatikan dia dengan bercanda bersama kakak-kakaknya. Seringkali saya meliriknya dan melihat dia juga mencuri pandang ke arah kami dengan kesal.
Terlihat serombongan tamu memasuki restaurant dan melangkah menuju meja yang diduduki si kecil. Saya tersenyum dan yakin ini kesempatan baik bagi saya membujuk si kecil namun ternyata lambaian tangan saya diacuhkannya, dia melangkah ke meja kosong lain di samping meja kami masih dengan wajah kesalnya.
Kali ini saya mengalah dan melangkah mendekatinya kemudian duduk berjongkok di hadapannya menatap wajahnya. Terlihat ada sedikit air di sudut matanya yang pasti dengan usaha keras ditahankannya agar tidak jatuh…saya langsung merasa iba dan menyesal tidak mendekatinya sedari tadi.
Kadang tanpa disadari kekerasan hati saya pun menahan saya untuk tidak bertindak lebih bijak walau semua itu dimaksudkan untuk mendidiknya agar jadi anak shaleh. Selaku orang tua kita tentu tidak selalu harus menuruti kehendak anak dan memenuhi semua apa-apa yang dimintanya, demikian pendapat saya. Tapi bagaimana cara kita menyikapi tentu masing-masing berbeda.
“ke sana yuk, kita makan bareng sama teteh dan mama. Tuh makanannya udah datang. Ade suka sop buntut kan? Di sini enak lho..” saya mencoba membujuk sambil memegang tangannya.
Dia menolak sentuhan saya dan makin memanjangkan bibirnya seolah menandakan dia sangat marah.
Hal itu justru membuat saya tersenyum, wajahnya menjadi sangat lucu. Saya ingin tertawa namun jika saya sampai tertawa di depannya saat ini, bisa dipastikan dia akan bertambah marah.
“Ade tau ga kalo mama sayang banget sama ade? Mama suka sedih kalo ade ga mau makan…. ”
Sebisa mungkin saya perlihatkan wajah sedih untuk mengetuk nurani anak-anaknya. Sentuhan saya tidak ditolaknya lagi namun masih terasa dia mengeraskan badannya dan kaku. Saya langsung memeluknya dan menggendongnya menuju kursi. Saya putuskan untuk memangkunya dan membiarkan kursi disebelah saya kosong.
Saya kembali becanda dengan kakaknya dan sesekali menciumi kepala si kecil sambil memeluknya. Saya bisa melihat dengan lebih jelas bahwa matanya semakin berkaca-kaca. Saya memeluknya dan membisikan kata-kata sayang ditelinganya, membisikan permohonan maaf karena sudah mengecewakannya. Runtuh sudah pertahanannya, airmata meleleh di pipinya dan dia memeluk leher saya kuat-kuat sambil berbisik…
“Maapin ade.. maapin ade..”
Begitulah selalu. Setiap kali saya berkeras dengan keinginan saya dan dia berkeras dengan keinginannya, seringkali kami malah semakin marah satu sama lain dan saling menghindari. Namun ketika saya sudah bisa menguasai keadaan, mengontrol emosi saya dan berpikir lebih jernih, saya biasanya memilih jalan lunak dan selalu berhasil.
Dalam hidup, seringkali kita memang harus mengalahkan ego diri untuk bisa mencapai hasil terbaik dan mencapai kata mufakat. Sebagai orang tua kita merasa memiliki kuasa atas anak-anak kita, sebagai pejabat kita merasa memiliki kuasa atas bawahan kita, sebagai suami kita merasa memiliki kuasa lebih tinggi dibanding isteri, begitu seterusnya.
Namun terlepas dari apa pun yang kita sandang pada diri kita, sebenarnya ego diri kita lah yang harus kita kuasai. Bukan hal-hal diluar diri kita yang sulit kita kendalikan. Apapun yang terjadi di lingkungan kita, situasi dan kondisi yang ada di sekitar kita, tetaplah kita harus bisa menguasai diri kita terlebih dahulu.
Setelah kita bisa mengendalikan diri dan menjernih hati serta pikiran, insyaAllah apapun yang ada bisa kita terima dengan baik walaupun itu mungkin tidak sesuai dengan harapan kita. Dan hidup akan menjadi lebih mudah kita jalani walau rintangan pasti akan selalu ada menghadang.
Isteri yang Pemaaf
21 Jun 07 08:46 WIB
Kirim teman
Oleh Yon's Revolta
Di mana ada kebesaran cinta
Di sanalah selalu terbentang harapan
(Willa Cather, Novelis)
Enam bulan yang lalu…
Tepatnya tanggal 16 Desember 2006, seorang ibu curhat kepada saya. Dia, seorang penjaja makanan keliling, salah satu langganan saya. Nariyah namanya. Waktu itu, matanya berkaca-kaca, raut mukanya tak bisa menyembunyikan aroma kesedihan yang dideritanya. Dengan terbata-bata bercerita. Suaminya, pergi meninggalkannya tanpa pamit alias minggat ke Kalimantan. Pergi tanpa sebab. Ternyata, kembali ke isterinya yang pertama. Memilukan. Oh..ya, Nariyah ini memang isteri ketiga. Ia rela menjadi isteri ketiga karena memang mencintai lelaki itu yang kemudian menjadi suaminya itu.
Saat mendapati suaminya minggat, pikiran kalut, sudah jelas.
Bagi yang masih punya rasa peduli, tak susah untuk sekedar ikut merasakan apa yang dialaminya. Bayangkan saja, bagaimana rasanya ditinggal orang yang dicintai. Tanpa pamit pula. Tanpa ada pemberitahuaan sebelumnya. Duka pastilah ada. Nariyah sendiri tahu kalau suaminya ke Kalimantan setelah menemui mertuanya. Menanyakan apakah suaminya pulang ke rumah orang tuanya. Ternyata tidak. Dari keterangan mertuanyalah Dia tahu kalau suaminya sudah berada di Kalimantan. Inu cerita enam bulan yang lalu.
Tadi siang saya bertemu kembali dengannya.
Biasa, membeli nasi rames yang dijualnnya cukup murah untuk ukuran mahasiswa. Saat membeli dagangannya, dengan nada gembira Dia berkata pelan kepada saya “Mas, suamiku wis balik”. Wah, kabar gembira nich, gumam saya dalam hati. “Gimana ceritanya” sambung saya.
Katanya, suaminya sempat minta persetujuannya boleh pulang menemuinya atau tidak. “Mak, aku meh balik, ojo nesu ya” (Mak, aku mau pulang, jangan marah ya). Begitu suaminya mengambil hati isterinya. Ternyata, Nariyah memang punya jiwa besar, bukan sosok pendendam. Dia, mempersilakan suaminya untuk pulang, kembali menemuinya. Melupakan masa lalu, melupakan kesedihan yang sempat dideritanya ketika enam bulan berada dalam kesendirian. Baginya, cukup hadirnya suami memberikan kebahagiaan tersendiri baginya. Begitulah Nariyah, isteri yang sangat pemaaf.
Sebenarnya, Dia bisa saja menolak suaminya pulang kembali padanya. Dengan senyum penuh sipu, dia berkata kepada saya kalau sudah didekati oleh dua orang laki-laki, satu karyawan kantor, satu lagi seorang satpam kampus. Mereka siap kalau Nariyah menyatakan mau untuk dinikahi. Oh, rupanya Nariyah banyak yang suka juga. Tapi, mendengar suaminya pulang, tawaran kedua orang itu diurungkannya. Kini, yang saya tahu, bersama suaminya, Dia mulai hidup baru, dengan sejarah yang baru. Sejarah tentang kebesaran cinta, dan ketulusan seorang isteri.
***
Sosok Nariyah, bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Mungkin, dia merasakan pengkhianatan atas cinta. Darinya, kesedihan, kesunyian, kesepian terasakan. Namun, pada akhirnya bisa memaafkan orang yang selama ini berbuat jahat padanya. Tidak mengungkit masa lalu, menghargai orang yang mau kembali, orang yang mau berubah. Merajut kembali keharmonisan keluarga yang sempat retak. Nah, bagi siapapun yang sedang dilanda berbagai masalah, khususnya dalam berumah tangga, Nariyah bisa menjadi cermin. Sebuah pelajaran berharga bagaimana mengambil keputusan yang bijak demi utuhnya sebuah keluarga. Susah memang, tapi Nariyah bisa, kenapa kita tidak..?
-----------------------------------------------------------------------
http://penakayu. Blogspot. Com
Kegundahan Para Bunda
23 Jun 07 18:38 WIB
Kirim teman
Oleh Seriyawati
Tinggal di Negeri Matahari Terbit yang terkenal dengan bunga Sakuranya, membutuhkan usaha dan kesabaran lebih besar dalam mendidik anak. Selain pendidikan formal juga yang paling utama adalah pendidikan agama Islam.
Teman-teman saya yang baru beberapa bulan datang ke Nagoya berkeluh, "Kami mempunyai masalah dalam hal mengajari anak-anak membaca Al-Quran. "
Masalah yang dialami teman-teman saya itu, juga saya rasakan di awal menjalani kehidupan di Jepang dan mungkin dirasakan pula oleh sebagian besar para ibu yang tinggal sementara atau menetap di luar negeri.
Dikatakan oleh teman saya bahwa masalah itu berkaitan dengan waktu dan tenaga sebagai ibu rumah tangga yang terbatas.
Di mana waktu dan tenaga yang tersisa setelah mengerjakan urusan rumah hampir tak bersisa untuk mengecek kemajuan anak-anak mereka membaca Al-Quran. Mereka yang sewaktu di tanah air biasa mengerjakan urusan rumah tangga sendiri pun masih merasakan repot apalagi mereka yang mendapatkan bantuan pembantu rumah tangga. Meskipun ibu rumah tangga yang tinggal di Jepang terbantu dengan alat-alat rumah tangga yang serba praktis, tetapi di sini segala sesuatunya mesti dikerjakan sendiri. Sehingga waktu untuk mengajari anak-anak mengaji pun terbatas.
Selain itu tinggal di Jepang dengan fasilitas minim untuk belajar Islam juga lingkungan yang kurang mendukung membuat para Bunda khawatir.
Maka dari itu perlu siasat dan kreatifitas ibu dalam mendidik dan mengajarkan agama Islam kepada anak-anaknya. Hal ini sangat berbeda dengan di Indonesia di mana ada guru mengaji yang bisa didatangi atau didatangkan ke rumah.
Kegiatan mengaji untuk anak-anak bisa dijumpai di masjid-masjid,
musholla-musholla, bahkan sangat terbantu dengan adanya TPA (Taman Pendidikan Al-Quran).
Seperti yang diceritakan seorang teman yang baru beberapa bulan tinggal di Jepang, karena kesibukan berbenah dan beradaptasi,
anaknya menjadi jarang mengaji dan malah lupa hapalan surah pendeknya.
Padahal waktu di Indonesia, anaknya rajin mengaji dan sudah hapal beberapa surat pendek Juz-Amma.
***
Untuk mengurangi kegundahan para Bunda dan menjawab keinginan agar anak-anak bisa belajar tentang agama Islam bersama-sama,
ada kegiatan belajar untuk anak-anak yang kami adakan tiap hari Sabtu di Masjid dan hari Minggu keempat tiap bulan di lobby kampus.
Dua kegiatan tersebut memang dirasakan masih belum mencukupi. Akan tetapi bila rutin datang ke kegiatan tersebut sedikitnya anak-anak pun menjadi terbiasa pergi ke Masjid dan merasa dekat dengan masjid, mereka takkan lupa apalagi lalai dalam belajar tentang agama Islam.
Apalagi sejak tahun 2004, kami mengadakan Sanlat (Pesantren Kilat)
rutin tiap tahun dan sejak tahun lalu di bulan Ramadhan kami mengadakan lomba menghapal surat pendek Juz-Amma bagi anak-anak.
Dan insyaAllah kegiatan-kegiatan tersebut akan lebih bervariasi lagi.
Kegundahan-kegundahan para Bunda tersebut sedikit demi sedikit kita hilangkan, dan kita coba mencari celah waktu yang bisa dibagi untuk anak-anak di antara waktu untuk mengurus rumah.
Saya berharap suatu ketika kegiatan yang kami bangun sedikit demi sedikit dan dari yang kecil di kemudian hari bisa menjadi besar, kokoh dan meluas. Semoga harapan akan adanya sekolah Islam di Nagoya bisa terwujud, amiin.
Nagoya, Juni 2007 http://junjungbuih. Multiply. Com
Sumber : eramuslim.com
Kirim teman
Oleh Indah Prihanande
Jam 24 malam saya baru tiba dirumah. Perjalanan dari Jakarta menuju Pandeglang hari itu terasa lebih panjang. Alasan apalagi kalau bukan karena kemacetan akut yang menyerang Jakarta hampir disemua ruas jalan.
Suami saya menunggu di depan teras rumah. Secangkir kopi susu hangat menemaninya menghalau dinginnya udara luar. Dia selalu begitu. Teras itu menjadi ruang favoritnya ketika malam tiba.
Kedua anak saya telah tertidur lelap di tempat tidur terpisah. Setelah mandi dan baca koran sebentar, akhirnya tiba untuk tenggelam dalam lelap dan nyenyak. Entah berapa lama terpejam, tiba-tiba terasa ada yang menarik tangan saya dengan sangat hati-hati. Kemudian tangan ini dielus dan diciuminya dengan lembut.
Saya berusaha memicingkan mata, oh, rupanya anak pertama saya Annisa (9 tahun) yang melakukannya. Saya tidak langsung bereaksi. Sengaja membiarkan ini berlanjut. Kemudian dia menempelkan tangan lembutnya kepipi saya. Dengan sangat perlahan dia berbisik: “Bu, ..ibu.bangun bu, pindah yuk, bobonya sama Nisa..”
Kami beranjak perlahan, khawatir membangunkan suami. Kemudian, saya dan Nisa tidur di bawah satu selimut besar. Dingin agak berkurang. Jam di Handphone menunjukkan pukul 02:00 dinihari. Tak sabar Nisa memulai pembicaraan.
“Bu, Nisa lagi buat gelang dan kalung dari manik-manik untuk dijual”.
“Jualannya ke mana?”
“Tadi sih muter kerumah temen-temen. Sebelumnya dijual disekolah”.
“Laku gak?”
“Ada yang laku ada yang nggak. Uang nya sudah dibelikan manik-manik lagi. Besok mau buat lagi. ”
“Yang bikin gelang dan kalungnya siapa? Nisa sendiri?”
“Bukan. Bertiga sama Teh Rifda dan Fajrin. Teh Rifda digaji 1. 000, kalau Fajrin 500. ”
Saya menahan senyum di tengah gelap. Terasa lucu mendengar kalimat terakhirnya. Entah bagaimana cara mereka bersepakat menentukan gaji dalam nilai rupiahnya. Malam itu, spesial dia membangunkan saya untuk membagi cerita serunya.
**
Saya tengah ingin melempar waktu ke beberapa tahun yang lalu. Pada suatu kesempatan berbincang dengannya, Saya mengajukan pertanyaan standar untuknya.
“Nisa punya cita-cita apa nak..?
“Nisa pengen jadi seperti ibu. Ibu jadi apa tuh sekarang? Akuntan ya? Nisa mau seperti itu, kerja dengan komputer..” serangkaian kalimat tadi lancar meluncur tanpa beban.
“Oh, iya. Kalau gitu Nisa harus rajin belajar supaya cita-citanya tercapai..”
“Iya Bu. Nanti kalau Nisa sudah kerja, kita kekantornya bareng ya. Nisa maunya satu kantor sama ibu. Ntar ibu yang ongkosin Nisa ya”
“Iya” ada tawa yang tertahan. Obrolan masih berlanjut..
“Ntar kita duduknya bareng ya Bu, Satu meja” Saya tersenyum dalam hati.
Dia berfikir dengan caranya sendiri.
Kemudian, dia melanjutkan lagi,
“Ntar kita makannya bareng, pulangnya juga bareng”
Saya tak tahan untuk segera menggodanya:
“Iya, ntar naik ojeknya juga bareng. Nisa tetap duduk di depan ya?”
Dia berfikir sebentar, kemudian menjawab:
“Wah, kayaknya nggak bisa deh bu, ntar kan badan nisa sudah gede, tukang ojeknya nanti terhalang oleh badan Nisa”
“Oh iya ya” saya manggut-manggut serius, mengiyakan argumennya. Kemudian, di tengah suasanan hati saya yang tak jelas antara gembira, haru, terenyuh dan lucu tersebut, saya mengajukan satu pertanyaan lagi untuknya.
“Kenapa Nisa ingin bekerja menjadi seperti ibu?”
Dengan kilat binar matanya yang bening dia menjawab lugas dan tuntas.
“Nisa ingin terus bersama ibu. Nisa ingin ke mana-mana bareng sama ibu. Pokoknya Nisa gak mau jauh dari ibu. Kalau Nisa bekerja seperti ibu, berarti kan Nisa bisa samaan terus dengan ibu…”
Tuhan.., itulah jawaban yang sebenarnya. Jawaban yang membuat jantung ini seolah dihantam godam berton-ton beratnya. Seketika hati saya berkabut. Saya sedih dan terenyuh dengan cita-citanya itu.
Tadinya saya menduga bahwa dia memimpikan profesi saya. Bahwa dia mengenal dan ingin menjadi seperti saya. Ada bangga menyelinap ketika pembicaraan itu berlangsung. Saya seolah menjadi model yang sempurna untuknya. Namun, sesungguhnya bukan itu yang menjadi alasan akan cita-citanya. Dia merindukan saya. Dia menginginkan kehadiran ibu dalam setiap saat waktu yang dilewatinya. Dia menginginkan kebersamaan itu.
Kemudian, dengan kapasitas berfikir anak usia 6 tahun, dia berusaha mencari jalan keluar atas keinginan yang belum didapatkannya. Dia tengah menyusun taktik. Dalam gambarannya, jika dia kelak menjalani profesi seperti ibu, maka dia tidak akan kehilangan kebersamaan dengan sosok yang dirindukannya itu.
Saya menangis haru atas cita-citanya itu. Jika mungkin saya boleh memilih, ingin rasanya menemaninya setiap saat, ingin menjadi orang pertama yang menyaksikan setiap perkembangannya, ingin mendampinginya dalam setiap kesempatan suka dan dukanya, ingin melewati kebersamaan lebih panjang lagi. Melewati setiap rangkaian peristiwa dengan kedekatan yang sesungguhnyapun saya merindukannya. Untuk saat itu saya membiarkan hati saya berduka. Saya mengakui akan kesedihan itu.
Bukan, bukan karena ingin meratapi nasib! Saya tidak tengah menyesali akan tugas yang tengah dijalani. Tugas yang telah menyita sebagian waktu kehidupan yang dimiliki. Saya hanya tengah ingin berdamai dengan kenyataan. Mencari cara agar hilang segala kesedihan, untuk kemudian berdamai dengan perasaan sendiri.
Walau bagaimanapun saya sangat yakin, ada potongan puzzle kehidupan yang harus diselesaikan satu persatu dengan sepenuh ikhlas.
Dan mungkin kini, sudah saatnya harus memiliki strategi untuk beranjak kepada potongan berikutnya.
Dan sekarang, saya tengah menyusun dan mewujudkan ‘ingin’ itu. Walaupun mungkin tak ideal seperti yang lainnya. Namun saya akan terus berdoa dan berusaha. Saya ingin selamat menyusun sisa rangkaian kehidupan yang saya miliki, yaitu melewati kebersamaan dengan penuh makna dan cinta dengan anak-anak tercinta itu.
Nenda_2001@yahoo. Com Untuk Annisa dan Aisya: terima kasih atas segala cintamu nak!
Kartu Langganan Kereta yang Hilang
13 Jun 07 11:07 WIB
Kirim teman
Oleh Dewi Telaphia
"Bilang saja abodemen kereta gitu, " kata sepupu saya beserta temannya. Kala itu saya masih menjadi pelajar SMP, sewaktu awal-awal UI (Universitas Indonesia) pindah ke Depok. Kebetulan sepupu saya kuliah di sana, dan dia mengajak menemaninya pergi ke kampus. Memang biasanya petugas karcis tidak akan meminta karcis jika kita mengatakan kalau kita berlangganan, apalagi kalau suasana di dalam kereta penuh sesak, semakin malaslah petugas untuk meminta karcis ke tempat-tempat yang sulit di jangkau. Maklumlah suasana KRL (Kereta Listrik) jurusan Jakarta-Bogor atau sebaliknya, dalam keadaan pulang kantor dan pulang kuliah penuh sesak, hingga sulit untuk bernafas, belum lagi ditambah dengan aroma yang kurang sedap memenuhi gerbong dan tak jarang pula ada tangan-tangan iseng yang suka berkeliaran.
Penggalan kisah itu tiba-tiba berkelebat dalam ingatan saya, sesaat setelah membaca rubrik tanya jawab di suatu situs internet.
Beberapa saat kemudian ingatan akan peristiwa yang lain pun datang dengan cepatnya. Kali ini bukan dalam suasana yang kurang tertib dan dipenuhi dengan aroma yang kurang sedap. Justru sebaliknya KRL yang ini nyaman, karena kalau lagi musim panas ada AC dan musim dingin ada pemanas, belum lagi walaupun penuh sesak tetap tertib dan seringkali tercium aroma parfum yang kadang menusuk hidung. Maklumlah KRL yang dipakai sekarang adalah KRL Den en Toshi Line.
Ya, kali ini peristiwa yang sama terjadi lagi setelah dua puluhan tahun peristiwa di KRL Jakarta -Bogor itu berlalu.
Pagi itu kebetulan ada keperluan yang membutuhkan waktu lebih pagi, dari biasanya. Karena ingin cepat, maka suami menawarkan untuk meminjamkan kartu langganan keretanya. Karena waktu sedang terburu-buru, dengan tanpa pikir panjang, segera kusambut tawarannya. Kesempatan untuk sampai lebih cepat dan agak sedikit berhemat, pikir saya.
Singkat cerita, setelah keperluan saya selesai, bergegas saya untuk pulang.
Namun sesampainya di stasiun dan hendak memasukan kartu ke kaisatsuguchi (pintu tiket), yang mana juga tempat masuk dan keluar di stasiun kereta. Ternyata kartunya tak ada, lemas juga jadinya. Akhirnya dengan perasaan tak menentu berjalan menuju mado guchi. (mesin tiket) untuk membeli tiket. Di sepanjang perjalanan pulang, sambil berpikir kira-kira tertinggal di mana kartu tersebut, hati ini tak henti-hentinya berdo'a agar kartu langganan kereta tersebut dapat kembali lagi, juga agar suami tak marah.
Sesampainya di rumah, saya sudah langsung bilang berkali-kali jangan marah pada suami. Kemudian suami bertanya, "kenapa?" Akhirnya saya jawab, " kartunya hilang." Suami kemudian hanya diam sambil berkata, "Mau gimana Lagi." Akhirnya saya berucap, " Lain kali tak akan mengguna kartu langganan kereta suami lagi."
Ternyata dengan hilangnya kartu langganan kereta itu, urusannya tidak sesederhana yang saya duga. Saya kira kalau kartu langganan kereta hilang akan dengan mudah membeli kartu yang baru dengan hanya mengatakan kalau kartunya hilang. Untuk mendapatkan kartu kembali suamiku harus lapor ke stasiun dekat rumah, setelah itu harus melapor ke stasiun yang mengeluarkan kartu langganan kereta tersebut untuk membuat berita acara. Namun jawaban yang diterima adalah tunggu saja, siapa tahu nanti ada yang menemukan.
Keesokan harinya suamiku mendapat telepon dari kepolisian untuk datang ke kantor polisi di daerah yang tidak jauh dari tempat yang kemarin aku datangi. Pihak kepolisian tersebut memberitahu untuk mengambil sesuatu dengan nomor berita acara yang telah diinformasikannya.
Cepat-cepat suamiku mendatangi kantor polisi yang diberitahu, ternyata suamiku sempat sedikit dipermainkan polisi. Kemudian polisi tersebut memberitahu suamiku setelah menelepon kantor polisi yang satunya lagi, bahwa bukan di daerah ini tempatnya, tapi di tempat yang lain.
Saya jadi berpikir, kok ya sampai sebegitu sulitnya untuk mendapatkan kartu langganan kereta, itu artinya harus orang yang bersangkutan yang memakainya, tidak boleh orang lain. Mengapa demikian? Ada bebarapa hal yang perlu diperhatikan:
1. Di kartu langganan tersebut tertulis nama dan jenis kelamin itu artinya harus orang yang bersangkutan yang memakainya. Di beberapa daerah ada sinyal yang membedakan antara kartu untuk perempuan dan laki-laki.
2. Ketika kartu hilang, tidak serta merta mudah untuk mendapatkannya kembali, seperti halnya KTP, kalau hilang urusannya rumit harus berurusan dengan pihak yang berwenang dan membuat berita acara kehilangan. Ini lagi-lagi menunjukkan bahwa harus yang bersangkutan yang menggunakan kartu langganan tersebut.
Kemudian saya berpikir berkaitan dengan pertanyaan di rubrik tersebut, yang menanyakan apa hukumnya menggunakan kartu langganan kereta orang lain, walaupun orang yang punya tersebut memberikan izin.
Ustadz tersebut menjawab, "Apakah perusahaan kereta tersebut memberikan izin kartu langganan kereta anggotanya dipakai orang lain?" Secara logika dengan adanya fakta yang saya uraikan di atas jelas-jelas perusahaan, tidak akan mengizinkan, atau kalau kurang percaya bisa ditanyakan sendiri. Jadi ini berarti hukumnya tidak boleh, sebab perusahaan kereta tersebut tidak mengizinkan.
Masih menurut jawaban ustadz, hukum Islam sangat memperhatikan hak milik, di mana seseorang dilarang mengambil hak milik orang lain tanpa seizin pemiliknya. Kemudian ustadz tersebut menjelaskan, yang dimaksud dengan pemilik di sini adalah institusi atau perusahaan atau jabatan yang memang dipercaya dan mendapatkan hak untuk mengizinkan, bukan oknum yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Mungkin yang perlu diperhatikan dan sangat mengena sekali buat saya adalah bahwa seseorang tidak akan jatuh miskin atau mati kelaparan hanya karena membayar karcis kereta.
Seharusnya semakin tinggi pemahaman Islam seseorang, berbanding lurus dengan keimanannya, juga akan membuat seseorang semakin wara'(berhati-hati) dalam segala tindak tanduknya. Bukankah Allah Maha Melihat? Allah selalu bersama kita?
Semoga hal yang semestinya kita anggap sepele ini, menjadi bahan pelajaran untuk tindakan kita ke depannya.
Catatan:
Abodemen: kartu langganan
De en Toshi Line: jalur kereta di daerah Tokyo sampai Yokohama
Perumpamaan Lalat dan Lebah
12 Jun 07 13:48 WIB
Kirim teman
Oleh Hendra Fachrurrozy
Lalat adalah hewan yang senantiasa menyukai tempat-tampat yang kotor dan berbau busuk. Di mana ada sampah atau bangkai, di sana ada lalat. Tidak hanya satu atau dua ekor lalat yang mendatangi, bahkan saking ramainya mereka untuk berebut tempat, suaranya pun terdengar kencang, seolah mereka sedang membicarakan nikmatnya mendatangi bangkai itu dan menjadikannya sebagai perbincangan menarik.
Setelah mereka puas mendatangi satu bangkai, mereka akan beralih untuk mencari bangkai yang lain dengan masih membawa bekas dan bau busuk dari bangkai pertama yang mereka datangi. Jika tidak ketemu, mereka akan menghampiri tempat-tempat yang bersih atau makanan yang terbuka namun dalam rangka untuk menyebarkan bibit penyakit kepada siapapun. Setiap orangpun akan merasa jijik terhadapnya.
Berbeda sekali dengan lebah. Lebah adalah hewan yang sangat menyukai keindahan dan kemanfaatan. Mereka selalu dan hanya akan mendatangi kembang-kembang indah yang tengah bermekaran. Mereka hinggap di sana, lalu mengambil sari pati dari setiap kembang yang mereka singgahi untuk kemudian dijadikan bahan baku pembuatan madu. Apa yang mereka ambil dari satu kembang ke kembang yang lain merupakan bahan terbaik yang akan menghasilkan madu yang bermanfaat dan bisa dijadikan sebagai obat berbagai penyakit bagi manusia.
Setiap hari, yang terlintas di benak sang lebah adalah menghasilkan madu dengan kualitas terbaik hasil olahan sendiri dengan izin Alloh SWT. Adapun sengat yang melekat di tubuh mereka bukan merupakan alat untuk menyerang musuh, melainkan sebagai alat untuk mempertahankan diri dari berbagai gangguan.
Beruntunglah menjadi bagian dari komunitas lebah, sebagai perumpamaan orang-orang yang selalu senang berada di majelis-majelis ilmu dan dzikir, yang mengambil sari patinya untuk kemudian dijadikan sebagai bahan beramal kebaikan, sebagai hujjah untuk menolak kebatilan dan keingkaran terhadap Alloh SWT dan Rosul-Nya, dan orang pundapat mengambil banyak manfaat darinya, dunia akhirat.
Dan merugilah menjadi bagian dari komunitas lalat, sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang yang lebih senang mendatangi tempat-tempat maksiat, yang tidak mendatangkan sesuatupun kecuali keburukan dan kebahagiaan semu, dan orang-orangpun pada akhirnya enggan mendekati.
Wallohu a'lam
Fakhrurrozy di Sudut Nasehat
Berkah Tersembunyi
12 Jun 07 09:11 WIB
Kirim teman
Oleh Esha Rachman Yudhi
Hari yang semula cerah, dalam waktu singkat berubah mendung. Langit biru berbaur putih berubah hitam kelabu. Dan di antara gemercik gerimis yang perlahan mulai turun, sesekali terdengar gelegar guntur. Meski tanpa kilauan kilat menyambar namun suasana terasa kian merambah ke titik ‘mencekam’.
Saat hujan menderas, cuaca yang semula panas seketika menjadi dingin. Bunyi rintiknya yang berirama tercurah ke atap rumah, mencipta rasa yang sulit diungkap dengan kata-kata. Dalam paduan cemas dan takut, terbersit teduh kepasrahan. Dalam gelisah, terlintas rasa syukur. Ah!. Hujan. Wujud peristiwa kehadiran yang kadang ditolak namun kadang pula ditunggu. Jadi bila memang sudah waktunya awan berarak diterbangkan angin, hingga terkumpul menjadi mendung menggumpal di seantero langit, siapa dapat mencegahnya mencurahkan titik-titik air hujan ke sekujur bumi?
Bila hujan tiba, lebih sering kita lantunkan sumpah-serapah. Seakan hujan sudah begitu identik dengan gambaran suasana sedih dan muram. Segala hal yang semula OK berbalik jadi KO. Jarum penunjuk antusias beralih ke titik bad mood. Rencana rapi yang sudah tersusun, jadi buyar seketika. Manajemen waktu yang telah terurutkan oleh step-step kegiatan, jadi amburadul dalam sekejap. Apa yang semula kita mau lakukan, jadi tak mampu kita wujudkan. Semua, gara-gara hujan.
Di atas segala hal yang menyangkut hujan, mungkin perlu kita bertanya: apakah selamanya sikap kita sudah benar mesti begitu?
Cobalah keluar rasakan rintik air hujan yang turun, lurus deras seakan hendak menusuk bumi. Bila hati terbuka menerima, maka kan terasa kesegaran menjalari raga.
Tengadahlah dengan wajah ceria, maka kan terhirup rasa sejuk di raut muka. Menjalar pelan ke relung sukma. Desir halus menghanyutkan dari Sang Maha Lembut.
Bukalah tangan, unjukkan ke arah langit. Berdoalah dengan lisan dan kalbu. Maka kan terasa nikmat getar ilham dalam mengingat-Nya.
Dalam buaian hujan, kita sebenarnya kan mampu pulas tertidur dalam rangkaian mimpi-mimpi indah yang berterusan. Bila kita mampu mengenali nilai ‘rahmat’ yang dibawanya serta. Bukankah udara yang semula keruh oleh tumpukan polusi, kan tercerai berai oleh kesegaran alaminya?
Tataplah dekat-dekat permukaan setiap daun di pepohonan. Tidakkah bulir-bulir yang tercipta di permukaannya yang hijau, mampu menciptakan perpaduan indah tak terlukiskan? Bukankah semua, karya agung Sang Maha Indah semata?
Di relung hujan, cobalah tulis berlarik puisi. Di permukaan tanah dan bebatuan, yang beradu dengan jernih air langit itu, cobalah ukirkan jejak. Segala arah mata angin kan berselimut kesejukan dari Sang Maha Kasih.
Berhadapan dengan berkah tiada kira ini, layakkah kiranya sumpah-serapah? Bila hujan tiba, inilah saat pintu langit terbuka. Segala lantun doa kan dengan mudah terkabulkan oleh-Nya. Haruskah saat baik ini berlalu di antara keluhan sia-sia?
Bila panas berlangsung tanpa henti. Bumi berputar, waktu berganti. Tanpa hujan sesekali, mampukah kita tegak berdiri?
Tuhan, terima kasih atas segala berkah tersembunyi yang demikian banyaknya telah Engkau kirimkan bagi kami di bumi. Maafkanlah bila kami tak pernah tahu pasti, untuk apa semua itu mesti ada dan senantiasa tak pernah henti hadir di tengah kami…
Segala macam berkah tersembunyi, seringkali terhijab dari kami. Karena memang hanya Engkau-lah Sang Maha Tahu Segalanya.
Bila Maaf Itu Belum Tiba
7 Jun 07 13:38 WIB
Kirim teman
Oleh Muhammar Khamdevi
Telepon berdering tak hentinya. Adam yang tak jauh dari situ, tak bergeming sedikitpun. Dari arah dapur terlihat seorang ibu bergegas ke ruang tengah untuk mengangkat telepon.
''Adam...! Kok gak diangkat sih Nak? Ibu kan lagi di dapur... Kamu lagi capek banget dari pulang sekolah yah? '' tanya Ibunya Adam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
''... ''
''Hallo!.... Wa'alaikumsalaam.... Iyah... Adam ada di sini kok To... Sebentar yah!.... Dam, nih si Yanto mau ngomong... ''
''Ibu... Mohon bilangin ajah kalau aku lagi nggak mau diganggu... ''
''Loh kok?''
''Plisss...!!!''
''Iyah deh... Kayaknya kamu lagi capek... Hallo nak Yanto... Maaf nih Adamnya lagi istirahat... Bisa telpon lagi nanti yah? Baik... Wa'alaikumsalaam...!''
Ibunya pun menghampiri Adam, sambil meletakkan telapak tangannya di kening dan leher Adam.
''Gak... Kamu gak panas kok... Kamu kenapa sih Dam?''
''Hmmm... Aku lagi males ngomong sama Yanto Bu. ''
''Kenapa?''
''Duh... Males nih ceritainnya...! Pokoknya dia punya salah ama aku...
Trus dia nggak minta maaf lagi... ''
''Kamu dah bicara sama dia?''
''Justru kayaknya dia nggak ngeh, kalo dia dah buat salah sama aku... ''
''Lah... Trus gimana dia bisa tahunya dong?''
''Dia cari tahu aja sendiri!''
''Jadi biar dia tersiksa, karena kamu diemin, gituh? Biar terbalas dengan setimpal kesalahan dia ke kamu?''
''Iyah... ''
''Ih Kamu nih! Jangan kayak gitu dong Dam! Jangan ngarepin dia tahu sendiri kesalahannya ke kamu! Dan jangan ngarepin dia minta maaf sama kamu! Sebaiknya kamu memberi maaf dia, sebelum dia minta maaf... Mungkin saja cuman salah paham kecil... ''
''Abis... Aku marah sekali Bu... Biar tau rasa dia!''
''Ih...! Jangan nyumpah-nyumpahin kayak gitu dong...! Marah itu jangan kamu bawa-bawa untuk tidak memaafkan dia... Malah kamu jadi berat hati dan tersiksa sendiri... Apalagi sampai merasa dendam dan ingin membalasnya... Bisa-bisa, kalo Yanto pun jadi minta maaf, malahan kamu nggak mau maafin dia sama sekali... ''
''Gengsi...! Ibu gak tau sih masalahnya apa... ''
''Kamu memberi balasan memang boleh... Tapi lebih utama memberi maaf... Apalagi memberi maaf, sebelum dia meminta maaf... Karena memberi maaf itu lebih utama, daripada mengharapkan minta maaf... Di Al-Qur'an saja yang tertera adalah kewajiban memberi maaf... Meminta maaf malah tidak ada... Yang ada meminta ampun sama Allah... ''
''Kok?''
''Coba deh Kamu rasa... Mana yang lebih berat? Meminta maaf atau memberi maaf?''
''Memberi maaf kayaknya... Tapi kenapa berat yah Bu?''
''Karena kalau kamu merasa teraniaya oleh kesalahan orang lain... Rasa amarah dan benci lebih mendominasi kamu... Makanya kenapa berat... Dan lagipula kalau kamu belum memberi maaf, kamu seakan menguasai dan memegang nasib kehidupan dia... Padahal kamu bukan Tuhan yang berhak memberi ampunan atau tidak... Yang ada jadinya berharap orang tersebut mendapatkan keburukan dan kesialan... Atau jika dia minta maaf, malah kita nggak mau memberi maaf... Dan itu adalah perbuatan yang tidak terpuji... Malah kita menjadi berdosa... ''
''Iyah aku paham... Tapi setidaknya khan dia juga punya kemauan minta maaf bukan?''
''Kendalanya mungkin si yang bersalah bisa jadi nggak tau, kalau dia telah berbuat salah atau menyinggung Kamu... Atau bisa jadi karena ada hambatan sosial, di mana dia juga sebenarnya malu meminta maaf karena gengsi atau karena mungkin merasa bisa langsung dimaklumi... Misalkan abangmu minta maaf sama Kamu, karena dia merasa lebih tua dari Kamu... Mana lebih gengsi? Meminta maaf atau memberi maaf?''
''Meminta maaf sih pastinya... ''
''Sudahlah, maafkan saja! Kalo kamu nggak usah cerita ke dia juga nggak apa-apa... Karena jika kamu bersabar dan memberi maaf sebelumnya, kamu justru mendapat penghapusan dosa dan penambahan pahala, karena kamu telah dianiaya... Tapi kalo kamu cerita ke dia juga boleh banget... Mungkin dia bisa tahu apa yang membuat kamu tersinggung dan dia ingin merubahnya, malah bermanfaat juga buat dia... Yang pasti dengan cara yang baik-baik memberi maafnya... ''
''Iya deh... Maaf ya Bu, kalo aku tadi gak ngangkat telponnya... ''
''Iya kok Nak... Ibu maklumin... Dah dimaafin kok... Makan siangnya bentar lagi selesai... Ibu masakin makanan kegemaran Kamu tuh... ''
''Teri Medan yah? Asyikkk!!!''
''Apabila kamu memaafkan, dan melapangkan dada serta melindungi, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang. '' (Q. S. Al-Thaghabun 64: 14)
Keranjang Buah Si Entong
14 Jun 07 14:33 WIB
Kirim teman
Oleh Bayu Gawtama
Belum satu pekan saya tinggal di Sawangan, Depok. Namun sudah mendapatkan banyak pelajaran berharga nan penuh hikmah. Salah satu pelajaran saya dapatkan dari Si Entong -semua warga perumahan tempat kami tinggal memanggilnya demikian- penjual buah dan sayuran yang kerap mampir menawarkan dagangannya.
Usianya baru dua belas tahun, namun perawakannya lumayan tinggi untuk anak seusianya. Setiap pagi ia memikul dua keranjang yang berisi buah-buahan seperti pisang, pepaya dan juga singkong. Beberapa jenis sayuran seperti daun singkong, kangkung dan bayam pun sering dibawanya serta. Suara cemprengnya mudah dikenali dan sangat khas saat berteriak memanggil pembeli.
Beberapa hari lalu, Entong mampir ke halaman rumah kami dan menawarkan dagangannya. "Pepaya pak, bu... Manis nih, matang di pohon. Pisangnya juga bagus-bagus... " Beruntung ia, kami memang sedang kehabisan buah di rumah. Maka kami pun membelinya. Cukup kaget saat tahu harga yang disebutkannya untuk sebuah pepaya seberat kurang lebih satu kilo, "dua ribu rupiah... " katanya.
Begitu pun dengan sesisir pisang mas yang hanya seharga seribu lima ratus. Selain kami jarang sekali menawar barang dagangan kepada pedagang kecil, tentu saja takkan mungkin kami menawarnya lagi mengingat harga yang sangat murah itu.
Terlebih setelah tahu berapa jarak yang harus ditempuhnya untuk berjualan dari rumahnya sampai ke komplek perumahan kami, yakni dua setengah jam berjalan kaki. Bisa dibayangkan, memikul beban berat dan menempuh jarak yang sangat jauh dengan berjalan kaki. Kaki kecil tak beralas kaki itu harus menapaki jalan beraspal dan berbatu, belum lagi tubuh kurusnya yang tak henti dihantam terik matahari.
Tidak ada satu alasan pun bagi saya untuk menawar barang dagangannya. Belum lagi setelah kami mendengar ceritanya, bahwa ia tak pernah diizinkan kembali ke rumah sebelum semua dagangannya habis. "Bisa diomelin sama bapak kalau masih tersisa. Mendingan saya nggak pulang sampai malam daripada diomelin... " terangnya.
Ketika kami bertanya tentang sekolahnya, ia tertunduk malu dan, "Sudah dua tahun saya nggak sekolah, dagang aja. Lagian bapak nggak punya uang untuk biaya sekolah, " tambahnya.
Isteri saya yang sejak tadi terdiam pun ambil suara, "kalau ada yang mau biayain sekolah, Entong mau sekolah lagi?"
"Saya sih mau banget bu, tapi pasti nggak boleh sama bapak. Nanti siapa yang jualan buah dan sayuran ini... " wajahnya tampak sedih. Dan tergesa ia menata kembali buah-buah di keranjangnya seraya mengalihkan pembicaraan, "ini pepayanya jadi nggak...?"
Kami pun membeli beberapa dagangannya, setidaknya meringankan beban di pundaknya serta menghapus keraguannya untuk kembali ke rumah tanpa khawatir terkena marah bapaknya. Entong berjalan ceria sambil tangannya sibuk menghitung laba yang tak seberapa.
Sungguh, sebuah pelajaran baru tentang kegigihan dan perjuangan hidup digambarkan dengan apik oleh lelaki kecil itu. Sangat mencabik-cabik perasaan saya akan hakikat perjalanan kehidupan, bahwa ada sebagian di antara kita yang mempertaruhkan segalanya untuk hidup, sementara sebagian lainnya tak butuh apapun untuk hidup karena sudah tersedia dan berlimpah.
Terima kasih, Entong... (gaw)
Kunci Kebahagiaan
8 Jun 07 11:22 WIB
Kirim teman
Oleh Jebel Firdaus
Tiap kita punya pendapat sendiri tentang kebahagiaan. Walau pun semua berhasrat ingin bahagia, namun tak sedikit kita jumpai orang yang tidak bahagia. Padahal tiada kurang harta yang dimilikinya, tiada kurang penghormatan untuknya, dan tiada kurang jabatannya. Kecantikan bukan ukuran kebahagiaan. Hal itu ibarat bunga yang suatu saat layu. Bukan pula harta kekayaan. Ia ibarat hujan yang akan kering setelah datang sinar matahari. Bukan juga kekuatan. Ia ibarat pertandingan, ada saatnya menang, tapi ada juga saatnya kalah. Singkat kata dunia tak dapat membahagiakan kita.
Syahdan sebelum menciptakan manusia, Allah tugaskan dua malaikat untuk menempatkan sesuatu yang amat berharga yang kelak akan dicari seluruh manusia. Malaikat satu berkata, aku kan letakkan di dasar samudra, hingga hanya orang yang tangguhlah yang menemukannya. Malaikat satu lagi berkata, aku kan menyimpannya di puncak gunung hingga tak ada yang menemukan kecuali orang yang kuat tekadnya. Perselisihan itu pun tak berujung. Akhirnya Allah yang memutuskan, Aku kan taruh sesuatu itu di lubuk hati manusia yang paling dalam. Sesuatu apakah gerangan hingga Allah turun tangan. Tak lain itu adalah kebahagiaan.
Kebahagiaan tertanam dalam diri kita sendiri. Kita hanya perlu menemukannya. Ia sering kali tertimbun endapan rasa takut, dengki dan kecewa akibat hal-hal di luar diri kita. Karena itu harus kita singkirkan. Kita takut kehilangan sesuatu, padahal mau tidak mau, semua yang datang pasti kan pergi. Kita dengki melihat kenikmatan orang, padahal tidak kurang anugerah Allah pada kita. Kadang kita kecewa dengan kejadian diluar, padahal selalu ada hikmah yang indah di balik semua kejadian yang telah berlalu.
Kebahagiaan adalah ketulusan. Hanya dengan ketulusan kita bisa menemukan kebahagiaan. Tulus menerima segala apa yang Allah anugerahkan seraya mensyukurinya. Allah lebih mengetahui dari pada kita tentang apa yang kita butuhkan. Jangan lepaskan burung di tangan hanya karena mengharap burung yang terbang. Yakinlah apa Allah yang takdirkan untuk kita, itu baik buat kita.
Maka jangan remehkan apa-apa yang telah kita miliki.
Ketulusan akan menyingkirkan debu kedengkian, kekecewaan sekaligus kecemasan. Sebaliknya ketulusan membawa kita pada sikap ridha. Maka Allah pun akan meridhai kita. Rasul bersabda, “Sesungguhnya besarnya pahala bergantung besarnya ujian. Apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Allah menguji mereka. Maka siapa yang ridha, maka Allah akan meridhainya, dan siapa yang murka, maka Allah akan memurkainya” (HR Tirmidzi).
Kebahagiaan ibarat air dalam botol. Botol dan air memang saling memerlukan. Namun hanya air yang dapat melepaskan dahaga. Maka siapa yang memiliki akal sehat akan memilih air, sedang orang yang sesat akan memilih botol, tanpa melihat apakah terdapat air didalamnya atau tidak. Itulah sebabnya, dahaganya tidak pernah terpuaskan, sebab ia tidak tahu apakah botol itu kosong atau berisi.
Kutemukan Belahan Jiwaku
11 Jun 07 14:45 WIB
Kirim teman
Oleh Elik Susanti
Jodoh, rejeki dan kematian adalah rahasia mutlak milik Allah SWT, Sang Maha Agung dan Bijaksana, tidak ada satu makhluk pun yang dapat mengetahuinya kecuali Sang Pemilik diri kita. Hal tersebut telah terpatri erat dalam pikiranku sejak dulu. Ini yang mendorongku untuk terus berikhtiar, istiqomah dan selalu ber-khusnudzan kepada Allah Azza wa Jalla tentang kapan saatnya tiba menemukan belahan jiwaku.
Dalam proses pencarian diusiaku yang keduapuluhenam, beberapa teman dekat mulai dijajaki, ta'aruf pun dilakukan. Dalam proses ta'aruf, salah seorang sempat melontarkan ide tentang pernikahan dan rencana khitbah. Namun herannya, hati ini kok emoh dan tetap tidak tergerak untuk memberikan jawaban pasti. Hey, what's going on with me? Bukankah aku sedang dikejar usia yang terus merambat menua? Bukankah aku sedang dalam proses pencarian belahan jiwa? Apalagi sebagai anak terakhir dari lima bersaudara, yang semuanya sudah berumahtangga, tentunya semua keluargaku sudah sangat mendambakan aku segera menyempurnakan separuh dienku, apalagi ibuku.
Sungguh teramat berat menjalani hidup dengan status lajang. Belum lagi lingkungan kerja dan di desa tempat keluargaku tinggal saat ini di mana kabar – seringnya gosip atau gunjingan – cepat menyebar, benar-benar merupakan cobaan besar yang harus dihadapi. Tetapi, semuanya aku jalani dengan penuh keikhlasan. “Ya, mungkin saya masih harus bekerja lebih banyak waktu buat masyarakat”, hanya itu yang bisa aku katakan setiap ada yang menanyakan kenapa belum menikah. “Ya, mungkin Allah masih belum mempercayakan seorang suami kepada saya dan saya masih harus belajar mengurangi ego sebelum saya menjadi seorang isteri”, kataku di lain waktu. “Ya, mungkin Allah memberi waktu saya lebih banyak mencurahkan waktu buat orang tua”, balasku ringan.
Mereka mengatakan bahwa aku adalah type 'pemilih' yang lebih suka jodoh yang tampan, kaya raya dan baik hati, dan lainnya yang serba super dan wah. Tapi, aku gelengkan kepalaku ke arah mereka karena kriteria seorang calon suami bagiku adalah si dia seorang muslim sejati yang mempunyai visi yang sama untuk membangun sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah, bahagia dunia akhirat, satu untuk selamanya, yang mempunyai tujuan menikah tidak hanya untuk meneruskan keturunan saja, tapi untuk beribadah dan menambah keimanan kita dan bukan sebaliknya, dan itu akan terwujud jika Allah mengkaruniakan pasangan yang tepat untuk kita.
Dan aku percaya bahwa tidak akan ada yang tertukar dari pemberian Allah, Allah akan memberikan yang terbaik dan indah pada waktunya. Tapi lucunya, kalau diminta untuk mengejewantahkan ke dalam diri seseorang, jujur saja aku tidak tahu.
Again, jodoh memang benar - benar sebuah rahasia yang mutlak milik Allah SWT. Proses pertemuanku dengan sang suami pun bak cerita dongeng. Jangankan sahabat atau rekan kantor, pun jika kami kembali me-rewind proses pertemuan kami, wuih... Unbelievable! But it happened!
Subhanallah...
Suamiku adalah sosok yang biasa dan sederhana, namun justru kesederhanaan dan keterbiasaannya itulah yang memikat hati ini. Dan, alhamdulillah hampir mendekati kriteria seorang suami yang aku dambakan. Di beberapa malam kebersamaan kami, suami sering menanyakan kepadaku tentang satu hal, "Apakah kamu bahagia menikah dengan aku?"
Aku pun menjawab dengan jeda waktu sedikit lama, "Ya, aku bahagia. " Masya Allah, seandainya suamiku tahu, besarnya rasa bahagia yang ada di dada ini lebih dari yang dia tahu. Besarnya rasa syukur ini memiliki dia cukup menggetarkan segenap hati sampai aku perlu jeda waktu untuk menjawab pertanyaannya. Hanya, aku masih belum mampu mengungkapkan secara verbal. Allah yang Maha Mengetahui segala getaran cinta yang ada di hati bunda, Allah yang Maha Mengetahui segala rasa sayang yang ada di jiwa bunda. Karena, atas nama Allah bunda mencintai ayah.
Pertama kali aku kenal dengan suamiku adalah waktu itu siang hari saat bulan suci ramadhan hampir berakhir, aku sedang mengikuti ceramah Aa’ Gym kesukaanku di TV, tiba – tiba aku dikagetkan oleh dering suara telepon ”Assalamualaikum, bisa bicara dengan elik?” kata si empunya suara dari seberang sana. ”Waalaikumsalam, Iya, saya sendiri” jawabku. Taufan adalah pemilik suara di telepon itu, dia tahu identitasku dari sebuah cyber Islami yang mana aku adalah salah satu anggotanya. Akhirnya kami terlibat dalam sebuah pembicaraan.
Sebelumnya kami berdua belum mengenal satu sama lain. Hanya kesabaran, perhatian dan pengertiannya sempat mampir di dalam pikiranku. Setelah itu kami kerap berhubungan lewat telepon sekedar untuk mengobrol dan saling mengenal satu sama lain. Perkenalan kami diawali saat itu, sebelum akhirnya kami memutuskan untuk ta’aruf. Di sinilah aku merasakan kuasa Allah yang sangat besar, ternyata kami banyak menemukan kecocokan dan sepertinya dia seseorang yang bisa diajak menggapai surga dunia dan akhirat.
Namun beberapa hari kemudian, entah kenapa wajahnya yang kulihat lewat foto yang dia kirim ke emailku mulai hadir di pikiranku kembali. Ternyata hal yang sama pun terjadi di pihak sana. Kami pun sepakat untuk melakukan istikharah. Subhanallaah, tidak ada kebimbangan sama sekali dalam hati kami berdua untuk menyegerakan hubungan ini ke dalam pernikahan. Namun saat ini aku harus bersabar menunggu sampai dia pulang dari negeri sakura, karena saat itu dia sedang ada di negeri itu untuk bekerja, kembali kesabaranku diuji.
Penantianku selama 7 bulan ternyata membuahkan hasil, setelah Taufan kembali dari negeri sakura, dia dan keluarganya mengkhitbahku. Mungkin ini buah kesabaran yang Allah berikan kepada kami. Kami rasakan 'tangan' Allah benar-benar turun menolong memudahkan segala urusan. Sujud syukur kami berdua, karena semua acara berjalan begitu lancar, dari mulai dukungan seluruh keluarga, urusan penghulu dan pengurusan surat-surat ke KUA.
Maha Suci Allah, hal tersebut semakin menguatkan hati kami, bahwa pernikahan ini adalah rencana terbaik dari Allah SWT dan Dia-lah Pemersatu bagi perjanjian suci kami ini. Dalam isak tangis kebahagiaan kami atas segala kemudahan yang diberikan-Nya, tak pernah putus kami bersyukur akan nikmat-Nya. Insya Allah, pernikahan kami merupakan hijrahnya kami menuju kehidupan yang lebih baik dengan mengharap ridha Allah, karena perkenalan itu berawal saat bulan suci ramadhan, saat Allah membukakan pintu maaf dan mengabulkan semua doa umatNya yang memohon kepadaNya.
Akhirnya setelah sekian lama aku mengembara mencari pasangan hidup ternyata jodohku adalah orang tak pernah kuduga selama ini. Inilah rahasia Allah SWT yang tidak pernah dapat kita ketahui kecuali dengan ber-khusnudzan kepadaNya. Percayalah, bahwa Allah SWT adalah sebaik-sebaik Pembuat keputusan. Serahkanlah segala urusan hanya kepada Allah semata, percayalah selalu akan janji Allah di dalam firman-Nya, "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. " (QS. Ar-Ruum: 21).
Jangankan manusia, hewan dan buah-buahan pun diciptakan Allah berpasangan. Ber-khusnudzan selalu kepada-Nya bahwa, entah esok, lusa, satu bulan, satu tahun atau bahkan mungkin sepuluh tahun nanti, dengan izin Allah, jodoh kita pasti akan datang. Pasangan jiwa yang terbaik yang dijanjikan dan dipersatukan-Nya dalam perjanjian suci yang disebut pernikahan.
Di saat umurku yang makin bertambah dan saat peluang menikah semakin memudar seperti anggapan sebagian orang, di tengah tatapan sinis sekelilingku, aku mampu memupuk keyakinan bahwa suatu saat, cepat atau lambat, Allah akan memberikan apa yang kuminta. Bahwa suatu ketika balasan itu pasti datang. Hari ini aku melihat bukti nyata hasil kesabaranku. Rangkaian panjang do’a-do’aku yang tak pernah putus terkabul sudah.
Sikap bersahabatku kepada setiap orang yang selalu mempermasalahkan statusku sungguh telah berbalas dengan sebaik-baik balasan, mempertemukanku dengan seseorang yang teguh dalam menjalankan perintah Allah dan Rasul-nya, yang meskipun lebih muda dariku, tapi lebih memandang jiwa daripada rupa. Hari ini aku menyakini bahwa bersabar memang pekerjaan yang sulit, tetapi bukan hal yang tidak mungkin dilakukan dan sungguh kita pasti akan memetik buah kesabaran kita, sebagaimana dikatakan, “Sungguh akan dipenuhi bagi orang-orang yang sabar pahala tanpa hitungan” (QS Az Zumar 10).
Bersabar bukan hanya sekedar kerelaan menunggu atas tertundanya suatu keinginan, bukan hanya sekedar kemampuan menerima setiap masalah dengan lapang dada. Lebih dari itu, bagi seorang muslim bersabar adalah manifestasi kepercayaan akan keberadaan Rabb-nya, bentuk nyata prasangka baiknya kepada Sang Khalik yang Maha Mengetahui, Maha Mengasihi dan Maha Penolong. Bersabar juga adalah wujud keyakinan yang muncul dari lubuk hati akan segala nikmat dan karunia yang diberikan Allah dan bentuk kemampuan untuk mempergunakannya dengan optimal.
Seorang muslim yang bersabar akan selalu memandang jauh ke depan dengan penuh optimisme. Bersabar berarti mampu memandang dengan sisi yang berbeda setiap kendala. Ketika merasakan betapa sulitnya menggapai suatu usaha, aku yakin bahwa setiap tetesan peluh kita menyimpan makna. Ketika merasakan sesaknya himpitan masalah, kita akan melihat pelajaran berharga yang bisa kita petik dari kesulitan-kesulitan yang menerpa kita dan menjadikannya sebagai tonggak meraih harapan-harapan dalam hidup kita. Jika kita merasa belum mendapatkan keinginan kita, maka kita akan semakin rajin menempa diri, memperbaiki diri, mengkoreksi diri mencari sebab mengapa do’a do’a kita belum juga dikabulkan.
Semoga tulisan ini dapat mewakili perasaan dan harapan ade, yang mungkin sulit untuk ade ungkapkan dalam kata – kata. Semoga doa kita dikabulkan-Nya. Amin. I hope this is our Endless Love
Sesungguhnya tak pernah sang kekasih mencari tanpa dicari oleh kekasihnya Apabila kilat cinta t'lah menyambar hati ini Ketahuilah bahwa ada cinta dalam hati yang lain.
Apabila cinta Allah bertambah besar di dalam hatimu pastilah Allah menaruh cinta atasmu. Tak ada bunyi tepuk tangan hanya dengan satu tangan.
Kebijaksanaan Ilahi adalah takdir dan ketetapan yang membuat kita cinta satu dengan yang lain Sampai akhir hingga dunia akan terpelihara oleh kesatuan kita
God know what we need not what we want
Pesan dari Kuburan...
13 Jun 07 19:28 WIB
Kirim teman
Oleh Parlan
Di dunia ini, tempat yang paling kaya adalah kuburan. Dari sana sejenak orang akan merasakan ketukan hati yang berpesan ’suatu saat aku juga akan mengalami seperti mereka..’. Bagi mereka yang mau berubah, maka ia akan mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah dunia. Kalau anda sekarang sudah memiliki ’teman hidup’, apakah anda sudah memiliki ’teman mati’?
Ada tiga ’teman mati’ (baca: perkara/amalan) yang setia dan tidak akan terputus pahalanya walau kita sudah meninggal; ilmu yang bermanfaat, amal jariyah di jalan ALLAH, doa anak yang sholeh. Yang pertama dan yang kedua adalah mutlak dilakukan oleh subjek semasa hidupnya. Sedangkan yang ketiga adalah ’orang lain’ yang terus berkarya, yang merekam didikan kasih sayang di masa kecilnya, yang juga rentan dan terombang-ambing oleh badai perubahan. Paling tidak bagi yang belum menikah, perkara yang ketiga tersebut belumlah berlaku. Jadi wujud usaha yang bisa dilakukan adalah poin pertama dan kedua.
Salah satu cara yang dianjurkan untuk memotret masa depan kita sebelum mati; Jika suatu hari Anda datang pada upacara pemakaman, dan Anda menyaksikan tubuh yang dimakamkan itu adalah diri Anda. Ada ayah, ibu dan keluarga anda, tetangga dekat, dan tak lupa teman-teman. Anda menyaksikan salah seorang keluarga Anda membuka pidato kematian, semua orang termasuk Anda hanya berhak mendengarkan.
Nah, kira-kira untain kalimat seperti apa yang ingin Anda dengar? Komentar apa yang ingin Anda dengar dari tetangga sebelah tentang Anda setelah mereka pulang dari makam? Setelah satu minggu berlangsung, apa yang dibicarakan orang lain tentang Anda? Setelah sebulan, setahun dan seterusnya, apa yang dikenang oleh banyak orang tentang Anda?
Hakikat pertanyaan tesebut bukanlah pujian ataupun gosip tentang Anda, melainkan kenyataan, fakta, dan prestasi yang telah Anda ukir hingga saat ini.
Sungguh kuburan adalah tempat yang kaya untuk memotret masa depan kita, merencanakan dan merealisasikannya tahap demi tahap. Kematian memang akan senantiasa dirahasiakan, dan di situlah letak pentingnya. Tak tahu bagaimana dan kapan. Hingga seharusnya membuat kita selalu khawatir jika saat ajal menjemput, sementara kondisi iman kita dalam kondisi terpuruk.
Kematian yang akan tetap menjadi misteri. Tak satupun yang berani menjamin, bahwa seorang aktivis dakwah akan mendapatkan anugerah meninggal dalam keadaan yang baik (khusnul khotimah). Untuk itulah tiap hari kita tak berhenti berharap, tunjukilah kami jalan lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat; bukan jalan mereka yang sesat. Sembari berusaha menghindar dari segala dosa masa lalu, bertaubat sungguh-sungguh, dan terus mengusahakan kebaikan yang kita mampu.
Saudaraku, mari mulai sekarang kita tuliskan ’pidato kematian’ yang kelak akan dibacakan saat kita meninggal dunia, mari perlahan perbaiki diri, susun prestasi-prestasi amal yang kita mampu, mari perbaiki kualitas diri dan seru sesama kita untuk mendekatkan diri kepada Islam dan kepada ALLAH SWT.
Yang menunggu antrian,
f_495: 06/01/2007
Pawon: Sejak pagi tadi aku gali kuburan orang yang mencurahkan kasih sayangnya kepadaku. Tidak tahu pasti kapan sakitnya, sejak 2 tahun lalu aku baru mengetahui kalau wanita yang mulia ini harus cuci darah tiap hari Kamis setiap pekannya. Insya’ALLAH sholatnya tidak terputus walau sebagian besar hari senjanya ia lalui di tempat duduk dan di tempat tidur. Beliau masih sempat memasakkanku ’dendeng’ tiap 2 pekan yang jadi rebutan anak-anak dikosan. Selepas maghrib biasanya terdengar lantunan ayat-ayat ALLAH dari mulut lemah wanita mulia itu. Di usia senjanya beliau harus ’berjihad’ melawan rasa sakit yang telah merusak ginjalnya. Hari ini kupeluk erat tubuhnya yang kaku terbungkus kaffan, kumasukkan ke dalam liang lahat yang terlambat dipersiapkan. Hari ini Bunda Yusniati menghadap ALLAH Sang Pemilik seluruh ciptaan.
(Lagi) Tentang Ketulusan dan Keikhlasan
21 Jun 07 15:41 WIB
Kirim teman
Oleh Ummufajar
Tidak jauh dari rumah kami ada sepetak tanah milik pengembang yang belum dimanfaatkan. Kami sendiri tidak tahu untuk apa nantinya sepetak tanah itu. Berdasarkan hasil musyawarah warga satu RT, kami sepakat untuk mendirikan ruang serba guna di atasnya. Selain nantinya dapat digunakan untuk tempat pertemuan warga juga bisa untuk tempat anak-anak kami mengaji di sore hari, karena selama ini mereka berpindah-pindah tempat untuk mengaji. Kebetulan juga ada seorang tetangga yang arsitek bersedia merancangnya. Alhamdulillah dengan cara swadaya berdirilah bangunan sederhana itu.
Sore ini sepulang kerja, seperti biasa terdengar suara anak-anak yang sedang belajar membaca Al-Qur'an. Usia mereka beragam dari 3 tahun sampai 11 tahun. Ada yang baru belajar mengenal huruf hijaiyah, tapi ada juga yang sudah lancar membaca Qur'an. Fajar, anak pertamaku memang baru beberapa hari ini bergabung dengan mereka, itupun atas kemauannya sendiri. Kebetulan sedang ada kakek dan neneknya di rumah. Sepertinya belajar bareng-bareng temannya lebih mengasyikkan.
Sudah beberapa hari ini aku perhatikan guru ngaji anakku itu. Namanya Yuyun, usianya menurut perkiraanku baru belasan tahun. Pembawaannya sangat sederhana, selalu ramah kepada setiap orang yang dijumpainya. Tempat tinggalnya bukan di dalam kompleks perumahan kami, tapi di perkampungan yang berbatasan dengan perumahan. Melihat usia dan banyaknya anak-anak yang harus diajarinya, ada perasaan kagum dengan kesabarannya menyampaikan ilmu yang dia miliki. Kebayang kan anak seusia 3 tahun, bagaimana tingkah mereka. Belum lagi yang usianya lebih besar dengan keisengan mereka.
Yang lebih mengagumkan lagi, bu Yuyun nggak pernah mau dibayar untuk jerih payahnya itu. Dia selalu bilang, 'Saya hanya ingin adik-adik ini belajar Qur'an, Bu'. Subhanallah, rupanya Allah hari ini telah mengingatkan aku melalui bu Yuyun, guru ngaji anakku akan ketulusan dan keikhlasan. Tentu saja bu Yuyun lebih memilih keuntungan yang akan didapat dalam 'perniagaannya' dengan Allah dibandingkan dengan keuntungan materi semata. Di saat ABG lain hidup dalam sendau-gurau dan permainan yang tak berguna, dia memilih mengajar mengaji anak-anak penerus generasi. Dalam hati aku hanya bisa berdoa, mudah-mudahan Allah selalu memudahkan setiap langkahnya.
Belajar Mengalahkan Ego Diri
20 Jun 07 10:42 WIB
Kirim teman
Oleh Hafizh Kharisma
Gara-gara tidak mengikuti kemauannya untuk masuk ke arena bermain pada mall yang kami kunjungi, si kecil ngambek (marah) tidak mau makan ikut siang. Bukan cuma itu, saat kami sekeluarga duduk mengelilingi sebuah meja makan di restaurant cepat saji, dia malah memisahkan diri duduk di meja lain dengan tangan dilipat di atas meja dan bibir mungilnya maju beberapa centimeter ke depan.
Saya mencoba membujuknya dengan melambaikan tangan memanggilnya untuk duduk dikursi sebelah saya yang sengaja dikosongkan tapi dia hanya menggelengkan kepala dengan mata dan raut wajah yang masih terlihat marah. Saya kemudian pura-pura marah juga dengan mengangkat bahu dan berusaha tidak lagi memperhatikan dia dengan bercanda bersama kakak-kakaknya. Seringkali saya meliriknya dan melihat dia juga mencuri pandang ke arah kami dengan kesal.
Terlihat serombongan tamu memasuki restaurant dan melangkah menuju meja yang diduduki si kecil. Saya tersenyum dan yakin ini kesempatan baik bagi saya membujuk si kecil namun ternyata lambaian tangan saya diacuhkannya, dia melangkah ke meja kosong lain di samping meja kami masih dengan wajah kesalnya.
Kali ini saya mengalah dan melangkah mendekatinya kemudian duduk berjongkok di hadapannya menatap wajahnya. Terlihat ada sedikit air di sudut matanya yang pasti dengan usaha keras ditahankannya agar tidak jatuh…saya langsung merasa iba dan menyesal tidak mendekatinya sedari tadi.
Kadang tanpa disadari kekerasan hati saya pun menahan saya untuk tidak bertindak lebih bijak walau semua itu dimaksudkan untuk mendidiknya agar jadi anak shaleh. Selaku orang tua kita tentu tidak selalu harus menuruti kehendak anak dan memenuhi semua apa-apa yang dimintanya, demikian pendapat saya. Tapi bagaimana cara kita menyikapi tentu masing-masing berbeda.
“ke sana yuk, kita makan bareng sama teteh dan mama. Tuh makanannya udah datang. Ade suka sop buntut kan? Di sini enak lho..” saya mencoba membujuk sambil memegang tangannya.
Dia menolak sentuhan saya dan makin memanjangkan bibirnya seolah menandakan dia sangat marah.
Hal itu justru membuat saya tersenyum, wajahnya menjadi sangat lucu. Saya ingin tertawa namun jika saya sampai tertawa di depannya saat ini, bisa dipastikan dia akan bertambah marah.
“Ade tau ga kalo mama sayang banget sama ade? Mama suka sedih kalo ade ga mau makan…. ”
Sebisa mungkin saya perlihatkan wajah sedih untuk mengetuk nurani anak-anaknya. Sentuhan saya tidak ditolaknya lagi namun masih terasa dia mengeraskan badannya dan kaku. Saya langsung memeluknya dan menggendongnya menuju kursi. Saya putuskan untuk memangkunya dan membiarkan kursi disebelah saya kosong.
Saya kembali becanda dengan kakaknya dan sesekali menciumi kepala si kecil sambil memeluknya. Saya bisa melihat dengan lebih jelas bahwa matanya semakin berkaca-kaca. Saya memeluknya dan membisikan kata-kata sayang ditelinganya, membisikan permohonan maaf karena sudah mengecewakannya. Runtuh sudah pertahanannya, airmata meleleh di pipinya dan dia memeluk leher saya kuat-kuat sambil berbisik…
“Maapin ade.. maapin ade..”
Begitulah selalu. Setiap kali saya berkeras dengan keinginan saya dan dia berkeras dengan keinginannya, seringkali kami malah semakin marah satu sama lain dan saling menghindari. Namun ketika saya sudah bisa menguasai keadaan, mengontrol emosi saya dan berpikir lebih jernih, saya biasanya memilih jalan lunak dan selalu berhasil.
Dalam hidup, seringkali kita memang harus mengalahkan ego diri untuk bisa mencapai hasil terbaik dan mencapai kata mufakat. Sebagai orang tua kita merasa memiliki kuasa atas anak-anak kita, sebagai pejabat kita merasa memiliki kuasa atas bawahan kita, sebagai suami kita merasa memiliki kuasa lebih tinggi dibanding isteri, begitu seterusnya.
Namun terlepas dari apa pun yang kita sandang pada diri kita, sebenarnya ego diri kita lah yang harus kita kuasai. Bukan hal-hal diluar diri kita yang sulit kita kendalikan. Apapun yang terjadi di lingkungan kita, situasi dan kondisi yang ada di sekitar kita, tetaplah kita harus bisa menguasai diri kita terlebih dahulu.
Setelah kita bisa mengendalikan diri dan menjernih hati serta pikiran, insyaAllah apapun yang ada bisa kita terima dengan baik walaupun itu mungkin tidak sesuai dengan harapan kita. Dan hidup akan menjadi lebih mudah kita jalani walau rintangan pasti akan selalu ada menghadang.
Isteri yang Pemaaf
21 Jun 07 08:46 WIB
Kirim teman
Oleh Yon's Revolta
Di mana ada kebesaran cinta
Di sanalah selalu terbentang harapan
(Willa Cather, Novelis)
Enam bulan yang lalu…
Tepatnya tanggal 16 Desember 2006, seorang ibu curhat kepada saya. Dia, seorang penjaja makanan keliling, salah satu langganan saya. Nariyah namanya. Waktu itu, matanya berkaca-kaca, raut mukanya tak bisa menyembunyikan aroma kesedihan yang dideritanya. Dengan terbata-bata bercerita. Suaminya, pergi meninggalkannya tanpa pamit alias minggat ke Kalimantan. Pergi tanpa sebab. Ternyata, kembali ke isterinya yang pertama. Memilukan. Oh..ya, Nariyah ini memang isteri ketiga. Ia rela menjadi isteri ketiga karena memang mencintai lelaki itu yang kemudian menjadi suaminya itu.
Saat mendapati suaminya minggat, pikiran kalut, sudah jelas.
Bagi yang masih punya rasa peduli, tak susah untuk sekedar ikut merasakan apa yang dialaminya. Bayangkan saja, bagaimana rasanya ditinggal orang yang dicintai. Tanpa pamit pula. Tanpa ada pemberitahuaan sebelumnya. Duka pastilah ada. Nariyah sendiri tahu kalau suaminya ke Kalimantan setelah menemui mertuanya. Menanyakan apakah suaminya pulang ke rumah orang tuanya. Ternyata tidak. Dari keterangan mertuanyalah Dia tahu kalau suaminya sudah berada di Kalimantan. Inu cerita enam bulan yang lalu.
Tadi siang saya bertemu kembali dengannya.
Biasa, membeli nasi rames yang dijualnnya cukup murah untuk ukuran mahasiswa. Saat membeli dagangannya, dengan nada gembira Dia berkata pelan kepada saya “Mas, suamiku wis balik”. Wah, kabar gembira nich, gumam saya dalam hati. “Gimana ceritanya” sambung saya.
Katanya, suaminya sempat minta persetujuannya boleh pulang menemuinya atau tidak. “Mak, aku meh balik, ojo nesu ya” (Mak, aku mau pulang, jangan marah ya). Begitu suaminya mengambil hati isterinya. Ternyata, Nariyah memang punya jiwa besar, bukan sosok pendendam. Dia, mempersilakan suaminya untuk pulang, kembali menemuinya. Melupakan masa lalu, melupakan kesedihan yang sempat dideritanya ketika enam bulan berada dalam kesendirian. Baginya, cukup hadirnya suami memberikan kebahagiaan tersendiri baginya. Begitulah Nariyah, isteri yang sangat pemaaf.
Sebenarnya, Dia bisa saja menolak suaminya pulang kembali padanya. Dengan senyum penuh sipu, dia berkata kepada saya kalau sudah didekati oleh dua orang laki-laki, satu karyawan kantor, satu lagi seorang satpam kampus. Mereka siap kalau Nariyah menyatakan mau untuk dinikahi. Oh, rupanya Nariyah banyak yang suka juga. Tapi, mendengar suaminya pulang, tawaran kedua orang itu diurungkannya. Kini, yang saya tahu, bersama suaminya, Dia mulai hidup baru, dengan sejarah yang baru. Sejarah tentang kebesaran cinta, dan ketulusan seorang isteri.
***
Sosok Nariyah, bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Mungkin, dia merasakan pengkhianatan atas cinta. Darinya, kesedihan, kesunyian, kesepian terasakan. Namun, pada akhirnya bisa memaafkan orang yang selama ini berbuat jahat padanya. Tidak mengungkit masa lalu, menghargai orang yang mau kembali, orang yang mau berubah. Merajut kembali keharmonisan keluarga yang sempat retak. Nah, bagi siapapun yang sedang dilanda berbagai masalah, khususnya dalam berumah tangga, Nariyah bisa menjadi cermin. Sebuah pelajaran berharga bagaimana mengambil keputusan yang bijak demi utuhnya sebuah keluarga. Susah memang, tapi Nariyah bisa, kenapa kita tidak..?
-----------------------------------------------------------------------
http://penakayu. Blogspot. Com
Kegundahan Para Bunda
23 Jun 07 18:38 WIB
Kirim teman
Oleh Seriyawati
Tinggal di Negeri Matahari Terbit yang terkenal dengan bunga Sakuranya, membutuhkan usaha dan kesabaran lebih besar dalam mendidik anak. Selain pendidikan formal juga yang paling utama adalah pendidikan agama Islam.
Teman-teman saya yang baru beberapa bulan datang ke Nagoya berkeluh, "Kami mempunyai masalah dalam hal mengajari anak-anak membaca Al-Quran. "
Masalah yang dialami teman-teman saya itu, juga saya rasakan di awal menjalani kehidupan di Jepang dan mungkin dirasakan pula oleh sebagian besar para ibu yang tinggal sementara atau menetap di luar negeri.
Dikatakan oleh teman saya bahwa masalah itu berkaitan dengan waktu dan tenaga sebagai ibu rumah tangga yang terbatas.
Di mana waktu dan tenaga yang tersisa setelah mengerjakan urusan rumah hampir tak bersisa untuk mengecek kemajuan anak-anak mereka membaca Al-Quran. Mereka yang sewaktu di tanah air biasa mengerjakan urusan rumah tangga sendiri pun masih merasakan repot apalagi mereka yang mendapatkan bantuan pembantu rumah tangga. Meskipun ibu rumah tangga yang tinggal di Jepang terbantu dengan alat-alat rumah tangga yang serba praktis, tetapi di sini segala sesuatunya mesti dikerjakan sendiri. Sehingga waktu untuk mengajari anak-anak mengaji pun terbatas.
Selain itu tinggal di Jepang dengan fasilitas minim untuk belajar Islam juga lingkungan yang kurang mendukung membuat para Bunda khawatir.
Maka dari itu perlu siasat dan kreatifitas ibu dalam mendidik dan mengajarkan agama Islam kepada anak-anaknya. Hal ini sangat berbeda dengan di Indonesia di mana ada guru mengaji yang bisa didatangi atau didatangkan ke rumah.
Kegiatan mengaji untuk anak-anak bisa dijumpai di masjid-masjid,
musholla-musholla, bahkan sangat terbantu dengan adanya TPA (Taman Pendidikan Al-Quran).
Seperti yang diceritakan seorang teman yang baru beberapa bulan tinggal di Jepang, karena kesibukan berbenah dan beradaptasi,
anaknya menjadi jarang mengaji dan malah lupa hapalan surah pendeknya.
Padahal waktu di Indonesia, anaknya rajin mengaji dan sudah hapal beberapa surat pendek Juz-Amma.
***
Untuk mengurangi kegundahan para Bunda dan menjawab keinginan agar anak-anak bisa belajar tentang agama Islam bersama-sama,
ada kegiatan belajar untuk anak-anak yang kami adakan tiap hari Sabtu di Masjid dan hari Minggu keempat tiap bulan di lobby kampus.
Dua kegiatan tersebut memang dirasakan masih belum mencukupi. Akan tetapi bila rutin datang ke kegiatan tersebut sedikitnya anak-anak pun menjadi terbiasa pergi ke Masjid dan merasa dekat dengan masjid, mereka takkan lupa apalagi lalai dalam belajar tentang agama Islam.
Apalagi sejak tahun 2004, kami mengadakan Sanlat (Pesantren Kilat)
rutin tiap tahun dan sejak tahun lalu di bulan Ramadhan kami mengadakan lomba menghapal surat pendek Juz-Amma bagi anak-anak.
Dan insyaAllah kegiatan-kegiatan tersebut akan lebih bervariasi lagi.
Kegundahan-kegundahan para Bunda tersebut sedikit demi sedikit kita hilangkan, dan kita coba mencari celah waktu yang bisa dibagi untuk anak-anak di antara waktu untuk mengurus rumah.
Saya berharap suatu ketika kegiatan yang kami bangun sedikit demi sedikit dan dari yang kecil di kemudian hari bisa menjadi besar, kokoh dan meluas. Semoga harapan akan adanya sekolah Islam di Nagoya bisa terwujud, amiin.
Nagoya, Juni 2007 http://junjungbuih. Multiply. Com
Sumber : eramuslim.com
Post a Comment